HOTNEWS.ID - Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni, baru-baru ini menyoroti isu krusial dalam ekosistem distribusi film nasional, yakni ketidakseimbangan antara jumlah produksi film dengan ketersediaan infrastruktur layar bioskop. Kondisi ini menjadi hambatan signifikan bagi film-film lokal untuk menjangkau penonton secara maksimal.
Menurut analisis BPI, Indonesia idealnya memerlukan sekitar 10.000 layar bioskop untuk memenuhi kebutuhan industri yang terus berkembang. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa jumlah layar yang tersedia saat ini masih berada di kisaran 2.500 unit, menciptakan antrean panjang bagi film-film yang menunggu jadwal tayang.
Dilansir dari Bisnis.com, Fauzan Zidni menyampaikan bahwa penambahan jumlah layar bioskop tetap menjadi prioritas utama, meskipun proses pembangunannya memerlukan investasi besar dan dilakukan secara bertahap. Kesenjangan infrastruktur ini menjadi tantangan distribusi yang harus segera diatasi demi pertumbuhan industri film yang sehat.
Meskipun demikian, Fauzan menekankan bahwa situasi ini tidak secara otomatis mendorong film-film yang sudah rampung untuk menjadikan platform over-the-top (OTT) sebagai satu-satunya jalan keluar utama. Ia menegaskan bahwa strategi distribusi ideal adalah mempertahankan bioskop sebagai garda terdepan penayangan.
Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Jakarta pada hari Jumat, 26 Juni 2026, Fauzan Zidni menggarisbawahi perbedaan mendasar antara kedua kanal distribusi tersebut. "Saya sendiri juga pernah bekerja di OTT dan melihat bahwa hubungan antara bioskop dan OTT bukan saling menggantikan (substitutif), melainkan saling melengkapi," katanya dalam konferensi pers JAFF Market 2026 di Jakarta, Jumat, (26/6/2026).
Fauzan menjelaskan bagaimana platform streaming mengambil keputusan akuisisi hak tayang, yang mana hal ini menunjukkan ketergantungan mereka pada performa di layar lebar. Platform OTT umumnya tidak serta-merta membeli semua film yang diproduksi, kecuali untuk proyek yang memang dirancang sebagai produksi orisinal platform tersebut.
Bagi film-film reguler, rekam jejak kesuksesan di bioskop menjadi pertimbangan utama sebelum OTT memutuskan untuk mengakuisisi hak penayangannya. Keberhasilan film menarik penonton di bioskop dinilai sebagai indikator kuat potensi diminatnya film tersebut saat beralih ke layanan streaming.
Lebih lanjut, capaian jumlah penonton di bioskop berdampak langsung pada nilai lisensi atau licensing fee yang ditawarkan oleh platform OTT kepada produser film. Semakin tinggi raihan penonton di layar lebar, semakin besar peluang film tersebut mendapatkan nilai kontrak yang lebih tinggi dari layanan streaming.
Fauzan Zidni memaparkan alasan di balik penilaian tersebut, "Hal itu karena OTT melihat beberapa indikator utama, seperti berapa banyak orang yang mendaftar (sign up) karena judul tersebut, berapa banyak yang menontonnya, dan berapa lama durasi tontonnya," imbuhnya.