HOTNEWS.ID - Kepulauan Sangihe, yang terletak di Sulawesi Utara, dilaporkan mengalami serangkaian guncangan gempa bumi pada hari Senin malam, tepatnya tanggal 8 Juni. Kejadian seismik ini memicu kewaspadaan di wilayah tersebut, meskipun data awal menunjukkan kedalaman yang cukup signifikan.
Aktivitas tektonik ini ditandai dengan adanya belasan kali gempa yang tercatat mengguncang wilayah kepulauan tersebut sepanjang malam itu. Dari seluruh rangkaian guncangan yang terjadi, satu di antaranya tercatat memiliki skala yang paling dominan dan kuat.
Gempa dengan kekuatan terbesar yang terekam mencapai magnitudo (M) 6,8 pada skala Richter. Peristiwa ini menjadi fokus utama dalam pemantauan aktivitas seismik di kawasan Indonesia timur pada hari tersebut.
Menurut informasi yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terbesar itu terjadi pada pukul 18.22 Waktu Indonesia Barat (WIB). Lokasi episentrum gempa menjadi penanda penting dalam analisis lebih lanjut mengenai sumber getaran.
Gempa dengan magnitudo 6,8 ini tercatat memiliki kedalaman hiposenter sekitar 10 Kilometer di bawah permukaan laut. Kedalaman dangkal seperti ini seringkali berpotensi menimbulkan getaran yang lebih terasa di permukaan bumi.
Titik koordinat gempa utama berada pada posisi 5.76 Lintang Utara dan 125.15 Bujur Timur. Lokasi ini secara geografis berada sekitar 241 kilometer dari Tahuna, ibu kota Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Informasi resmi mengenai kejadian ini disampaikan langsung oleh BMKG melalui publikasi data mereka. Dilansir dari detikcom, BMKG mencatat rincian kejadian tersebut.
"Gempa Mag: 6.8, 08-Jun-2026 18:22:25WIB, Lok:5.76LU, 125.15BT (241 km Barat Laut TAHUNA-KEP.SANGIHE-SULUT), Kedalaman: 10 Km," tulis keterangan resmi BMKG.
Pernyataan resmi tersebut mengkonfirmasi parameter teknis dari gempa terbesar yang mengguncang Sangihe pada sore menjelang malam hari itu. Data ini sangat krusial bagi mitigasi potensi dampak lanjutan.