HOTNEWS.ID - Pemerintah Indonesia telah mengumumkan paket stimulus ekonomi yang akan berlaku pada semester kedua tahun 2026, salah satunya adalah pemberian insentif berupa penurunan tarif bea masuk hingga 0% untuk beberapa komoditas penting industri. Kebijakan ini bertujuan utama untuk meringankan beban operasional perusahaan sekaligus menjadi upaya menekan laju inflasi di Tanah Air.
Insentif pembebasan bea masuk impor ini merupakan bagian dari paket stimulus ekonomi yang telah diumumkan sebelumnya oleh pemerintah pada akhir April 2026 dan akan berlaku selama enam bulan ke depan. Keputusan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan daya saing sektor manufaktur nasional.
Secara spesifik, insentif fiskal untuk periode semester II/2026 mencakup penerapan bea masuk 0% untuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG), bahan baku plastik, serta suku cadang pesawat terbang. Langkah ini diambil untuk memberikan dampak positif langsung terhadap sektor-sektor vital dalam perekonomian.
Pemberian bea masuk 0% untuk impor LPG yang ditujukan bagi industri petrokimia diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi signifikan, meskipun negara harus rela kehilangan potensi pendapatan kepabeanan sekitar Rp360 miliar per tahun. Manfaat ekonomi yang diharapkan jauh lebih besar dibandingkan potensi kerugian penerimaan negara tersebut.
Mengenai hal ini, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan dampak positif yang ditargetkan dari kebijakan tersebut. "Pemerintah menetapkan bea masuk 0% untuk impor LPG bagi industri petrokimia. Dengan ini diharapkan bisa meningkatkan nilai manfaat bagi sektor ekonomi sebesar Rp2,25 triliun berupa pengurangan cost bagi industri terkait dan efek pengganda yang bisa didorong," jelas Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (22/6/2026).
Selain fokus pada LPG, pemerintah juga menerapkan kebijakan serupa untuk bahan baku plastik yang impornya dibebaskan dari bea masuk. Kebijakan ini secara khusus ditujukan untuk mengantisipasi dan menekan potensi lonjakan inflasi yang mungkin timbul akibat kenaikan harga produk jadi yang memerlukan kemasan plastik.
Lebih lanjut, insentif bea masuk 0% juga diperluas untuk impor suku cadang pesawat terbang. Insentif ini diharapkan dapat memberikan dukungan konkret bagi kelangsungan dan peningkatan daya saing industri penerbangan serta sektor maintenance, repair and operations (MRO) di Indonesia.
"Ini untuk mendukung industri penerbangan dan industri MRO [maintenance, repair and operations] agar daya saing industri MRO juga lebih bisa ditingkatkan," terang Airlangga.
Secara keseluruhan, paket stimulus ekonomi yang dianggarkan total mencapai Rp26,34 triliun untuk paruh kedua 2026 ini mencakup berbagai sektor, termasuk insentif impor, dukungan kepada penulis, program magang, pelatihan vokasi, hingga bantuan pangan seperti beras dan stabilisasi harga kedelai.