HOTNEWS.ID - Austria telah mengambil langkah signifikan dengan mengubah bangunan bersejarah yang menjadi tempat kelahiran Adolf Hitler pada tahun 1889 menjadi sebuah kantor polisi. Keputusan ini diambil untuk mengakhiri perdebatan publik yang telah berlangsung selama beberapa dekade mengenai penanganan situs tersebut.

Proyek transformasi yang menelan biaya sekitar 20 juta euro atau setara dengan 22,9 juta dolar Amerika Serikat ini merupakan tahap akhir setelah pemerintah Austria menasionalisasi gedung yang berlokasi di Braunau am Inn, sebuah kota di utara Salzburg yang berbatasan dengan Jerman.

Menteri Dalam Negeri Austria, Gerhard Karner, dijadwalkan akan secara resmi meresmikan pembukaan kantor polisi baru tersebut pada hari Rabu mendatang. Peresmian ini menandai babak baru bagi bangunan bersejarah tersebut.

Sebelumnya, sebuah komisi ahli yang ditunjuk oleh pemerintah telah menolak usulan untuk menjadikan lokasi tersebut sebagai museum. Penolakan ini didasari oleh kekhawatiran bahwa situs bersejarah tersebut dapat disalahartikan oleh para pengunjung.

"Risiko bahwa tempat bersejarah tersebut dapat disalahartikan oleh pengunjung," menjadi alasan utama penolakan proposal museum, menurut laporan komisi ahli tersebut.

Rencana untuk menghancurkan bangunan tersebut juga sempat dipertimbangkan namun akhirnya diblokir. Hal ini dikarenakan bangunan yang berasal dari abad ke-17 tersebut merupakan bagian integral dari pusat sejarah kota dan berada di bawah perlindungan warisan budaya nasional.

Penggunaan Salzburger Vorstadt 15, alamat rumah kelahiran Hitler, sebagai kantor polisi dinilai dapat memastikan "akses publik yang terbatas dan kehadiran otoritas negara," demikian disampaikan oleh komisi yang beranggotakan 13 ahli dalam laporan mereka pada tahun 2016.

"Akses publik yang terbatas dan kehadiran otoritas negara," akan dipastikan melalui fungsi baru bangunan ini, demikian disampaikan oleh komisi ahli yang terdiri dari 13 orang dalam laporannya pada tahun 2016.

Dikutip dari berbagai sumber berita internasional, langkah Austria ini diharapkan dapat mencegah situs tersebut menjadi tujuan ziarah bagi para ekstremis sayap kanan yang mungkin ingin mengagungkan sosok Hitler.