HOTNEWS.ID - Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penangguhan komitmennya terhadap memorandum perdamaian yang sebelumnya disepakati dengan Amerika Serikat. Langkah ini diambil menyusul tudingan Iran bahwa Washington telah melanggar kesepakatan yang dimediasi oleh Pakistan.

Situasi ini berpotensi memperbesar risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, yang hingga kini masih menunjukkan ketegangan yang belum mereda. Penangguhan ini menandai perkembangan terbaru dalam memburuknya hubungan kedua negara.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menghentikan seluruh komitmen yang sebelumnya telah disepakati dalam kerangka Memorandum Islamabad. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap situasi yang berkembang.

"AS telah melanggar dan menghentikan semua komitmennya dalam kerangka Memorandum Islamabad," ujar Kazem Gharibabadi dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita Fars.

Dengan adanya dugaan pelanggaran tersebut, Iran merasa tidak lagi memiliki kewajiban untuk menjalankan isi memorandum yang sebelumnya telah disepakati bersama. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek.

"Dengan demikian, kami juga telah menangguhkan komitmen kami. Kami tidak akan melaksanakannya karena kami sibuk mempertahankan negara ini," tegas Kazem Gharibabadi.

Pernyataan dari pejabat Iran ini menjadi sinyal terbaru mengenai memburuknya hubungan bilateral antara Iran dan Amerika Serikat. Ketegangan ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas konfrontasi militer di kawasan Timur Tengah.

Memorandum Islamabad sendiri disepakati pada bulan Juni 2026, melalui upaya mediasi yang dilakukan oleh Pakistan. Tujuan utama kesepakatan ini adalah untuk menghentikan perang dan membuka jalan menuju perdamaian yang lebih permanen antara kedua negara.

Namun, implementasi dari kesepakatan tersebut terus menghadapi berbagai hambatan. Hal ini terlihat dari kedua negara yang masih saling melancarkan serangan dalam beberapa pekan terakhir, memperkeruh suasana.