HOTNEWS.ID - Sebuah insiden maritim tragis terjadi di perairan internasional dekat Malta, yang melibatkan tenggelamnya kapal yang membawa sejumlah besar migran. Operasi pencarian dan penyelamatan segera diluncurkan setelah kapal tersebut dilaporkan mengalami musibah di laut lepas.

Pihak Penjaga Pantai Italia menjadi garda terdepan dalam upaya evakuasi dan penemuan korban dalam kecelakaan kapal yang menyentuh kawasan Laut Malta tersebut. Hingga kini, fokus utama adalah mengidentifikasi korban dan memberikan bantuan kepada para penyintas.

Tragedi ini melibatkan sebuah kapal yang diketahui berangkat dari pantai Libya, membawa penumpang yang diduga kuat adalah para migran yang mencari suaka atau kehidupan yang lebih baik. Rute ini memang dikenal berbahaya dan sering menimbulkan insiden serupa.

Menurut informasi terbaru yang disampaikan oleh otoritas terkait, kapal yang karam tersebut diperkirakan membawa sekitar 60 orang saat memulai perjalanannya dari Libya. Jumlah ini menunjukkan skala potensi korban dalam peristiwa ini.

"Kapal tersebut, yang berangkat dari pantai Libya... berlayar dengan sekitar 60 orang di dalamnya," kata penjaga pantai Italia dalam sebuah pernyataan resmi, dilansir AFP, Senin (8/6/2026).

Hasil dari upaya pencarian awal menunjukkan hasil yang menyedihkan, di mana tim penyelamat berhasil menemukan 10 jenazah korban yang tidak dapat diselamatkan. Penemuan ini menambah daftar panjang korban jiwa dalam krisis migrasi di kawasan Mediterania.

Di sisi lain, terdapat kabar baik dari operasi penyelamatan, di mana sebagian besar penumpang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Upaya penyelamatan ini dilakukan oleh kapal nelayan yang berada di sekitar lokasi kejadian.

"Menurut informasi terbaru, sebuah kapal nelayan di daerah tersebut telah menemukan sekitar 48 orang yang masih hidup," tambahnya mengenai keberhasilan evakuasi sebagian penumpang.

Dikutip dari AFP, pernyataan resmi mengenai penemuan jenazah dan korban selamat ini disampaikan oleh Penjaga Pantai Italia pada hari Senin, 8 Juni 2026. Kejadian ini menjadi pengingat akan risiko besar yang dihadapi para migran.