HOTNEWS.ID - Pemerintah Indonesia mencatat bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada semester pertama tahun 2026 mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun, setara dengan 0,76% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kondisi ini terjadi karena realisasi belanja negara yang mencapai Rp1.656 triliun melampaui total penerimaan negara yang tercatat sebesar Rp1.459,4 triliun.

Dilansir dari Bisnis.com, pemerintah menegaskan bahwa defisit yang terjadi hingga pertengahan tahun tersebut masih berada dalam batas aman dan terkendali. Namun, Badan Anggaran (Banggar) DPR memiliki proyeksi yang lebih pesimis mengenai kondisi fiskal hingga penutup tahun 2026.

Banggar DPR memprediksi bahwa defisit APBN hingga akhir tahun 2026 akan melebar signifikan menjadi Rp734,3 triliun, yang berarti mencapai 2,85% terhadap PDB. Angka ini lebih tinggi dari target APBN awal yang ditetapkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% dari PDB.

Perkembangan ini muncul bersamaan dengan evaluasi DPR terhadap pelaksanaan APBN tahun 2025 yang dinilai masih memiliki beberapa pekerjaan rumah. Persoalan tersebut meliputi ketidaktepatan target ekonomi, peningkatan rasio utang, serta realisasi belanja negara yang belum optimal.

Meskipun terdapat tekanan fiskal, penerimaan negara secara keseluruhan masih menunjukkan tren pertumbuhan positif, terutama didorong oleh kontribusi penerimaan pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Namun demikian, pembayaran beban utang tercatat meningkat dibandingkan periode tahun sebelumnya.

Hingga akhir Juni 2026, penerimaan negara berhasil terkumpul sebesar Rp1.459,4 triliun, yang meliputi penerimaan pajak Rp1.035,7 triliun (tumbuh 24,6% secara tahunan), kepabeanan dan cukai Rp152 triliun (naik 3,4%), dan PNBP Rp271 triliun (meningkat 21,6%).

Di sisi belanja, total realisasi mencapai Rp1.656 triliun, di mana belanja pemerintah pusat terealisasi sebesar Rp1.298,6 triliun, menandakan peningkatan 29,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, transfer ke daerah mengalami kontraksi sebesar 11,2% secara tahunan, hanya mencapai Rp357,4 triliun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa defisit yang tercatat pada semester I/2026 masih berada dalam koridor yang aman dan terkendali.

"Banggar DPR memperkirakan defisit APBN hingga akhir tahun mencapai Rp734,3 triliun atau 2,85% terhadap PDB, lebih tinggi daripada target APBN," sebut salah satu poin evaluasi dari Banggar DPR.