HOTNEWS.ID - Perkembangan terkini dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan adanya ketegangan baru antara kedua belah pihak. Hal ini terjadi hanya sehari setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa negosiasi mengenai kesepakatan tersebut hampir mencapai tahap akhir.
Ketegangan ini dipicu oleh reaksi keras Trump terhadap informasi yang beredar luas di media massa mengenai isi kesepakatan yang diklaim telah disepakati. Trump secara eksplisit menuduh pihak Iran menyebarkan deskripsi yang jauh dari kenyataan proposal yang sebenarnya.
Apa yang menjadi fokus utama kemarahan Trump adalah pembocoran rincian kesepakatan tersebut ke berbagai platform berita. Ia mengklaim bahwa informasi yang disebarkan tersebut tidak mencerminkan poin-poin yang telah disepakati secara resmi dan tertulis.
Trump menyampaikan kekecewaannya tersebut melalui platform media sosial pribadinya, Truth Social. Pernyataan ini secara luas dilaporkan oleh media internasional pada hari Jumat, 12 Juni 2026.
"Rincian yang dibocorkan Iran ke media berita palsu tidak ada hubungannya dengan rincian yang telah disepakati secara tertulis," tulis Trump di Truth Social, sebagaimana dikutip dari CNN.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa narasi yang disampaikan oleh pihak Iran mengenai kemajuan kesepakatan tersebut sangat jauh dari fakta yang ada di meja perundingan. Ia menganggap pernyataan tersebut lemah dan tidak berdasar.
"Apa yang mereka katakan, termasuk pernyataan mereka yang lemah dan menyedihkan tentang adanya kesepakatan, tidak ada hubungannya dengan kebenaran," lanjutnya, menegaskan ketidakpercayaannya terhadap informasi yang beredar.
Trump juga menyuarakan frustrasinya mengenai etika bernegosiasi dengan pemerintah Iran. Menurutnya, sangat sulit untuk mencapai kesepakatan yang adil dengan pihak yang dinilai tidak memiliki itikad baik dalam proses tersebut.
"Orang-orang yang sangat tidak terhormat untuk diajak berurusan. Dengan mereka, tidak ada yang namanya berurusan dengan itikad baik," tegas Trump dalam pernyataannya.