HOTNEWS.ID - Sebuah gelombang protes signifikan kini tengah melanda Albania, menyusul penolakan keras warga terhadap rencana pembangunan sebuah resor mewah di wilayah pesisir negara Balkan tersebut. Demonstrasi ini telah berlangsung secara berkelanjutan dan menunjukkan eskalasi massa yang semakin membesar dalam beberapa pekan terakhir.
Aksi unjuk rasa ini diketahui telah dimulai sejak akhir bulan Mei lalu dan kini berlanjut hingga memasuki minggu ketiga. Para warga yang berpartisipasi secara rutin berkumpul pada malam hari untuk menyuarakan keberatan mereka terhadap proyek konstruksi yang spesifik tersebut.
Proyek yang menjadi sasaran utama protes adalah pembangunan hotel mewah yang dikaitkan dengan Ivanka Trump, putri dari mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, beserta suaminya, Jared Kushner. Pembangunan direncanakan akan dilakukan di area yang ditetapkan sebagai cagar alam di garis pantai Albania.
"Sejak akhir Mei, para demonstran berkumpul setiap malam untuk menentang pembangunan hotel mewah yang terkait dengan putri Trump, Ivanka, dan suaminya, Jared Kushner, yang direncanakan dibangun di cagar alam di pesisir negara Balkan tersebut," Dikutip dari AFP.
Seiring berjalannya waktu, isu penolakan pembangunan resor ini telah bertransformasi menjadi fokus utama ekspresi ketidakpuasan publik. Hal ini mencerminkan frustrasi masyarakat yang lebih luas terkait isu dugaan praktik korupsi yang terjadi di pemerintahan.
Bahkan, tuntutan para demonstran kini telah mengalami peningkatan signifikan dari sekadar menolak proyek pembangunan fisik. Massa aksi kini secara tegas menuntut adanya pertanggungjawaban politik dari pucuk pimpinan eksekutif negara.
Secara spesifik, para pendemo yang semakin solid menyuarakan desakan agar Perdana Menteri Albania, Edi Rama, segera mengundurkan diri dari jabatannya. Tuntutan ini menggarisbawahi sensitivitas isu lingkungan dan dugaan tata kelola pemerintahan.
Perkembangan situasi ini menunjukkan adanya ketegangan antara kepentingan pembangunan infrastruktur dengan konservasi lingkungan, yang diperparah dengan adanya dugaan keterlibatan figur internasional ternama. Perkembangan situasi ini terus dipantau secara ketat oleh berbagai pihak.
Dilansir AFP pada Minggu, 21 Juni 2026, perkembangan demonstrasi ini menunjukkan adanya potensi gejolak sosial yang lebih luas di Albania jika aspirasi massa tidak segera direspons secara memadai oleh otoritas terkait.