HOTNEWS.ID - Cara kita berinteraksi dan berbicara dalam percakapan sehari-hari ternyata menyimpan petunjuk penting mengenai cara berpikir dan kemampuan kita dalam memahami orang lain. Komunikasi yang efektif bukan hanya soal apa yang kita katakan, tetapi bagaimana kita melakukannya.
Dari obrolan santai sehari-hari, kita bisa mengidentifikasi apakah seseorang mahir dalam menjalin hubungan interpersonal atau justru sering menciptakan jarak dengan lawan bicaranya. Hal ini menjadi cerminan kemampuan kognitif dan emosional mereka.
Psikolog ternama, Dave Smallen, menyoroti adanya beberapa pola kebiasaan dalam berbicara yang seringkali diasosiasikan dengan tingkat kecerdasan yang kurang optimal. Kebiasaan ini dapat mengganggu kenyamanan lawan bicara dan menghambat keakraban.
Dilansir dari Your Tango, kebiasaan pertama yang sering terlihat adalah kecenderungan untuk selalu memotong pembicaraan orang lain. Hal ini sering kali didorong oleh keinginan kuat untuk segera menyampaikan perspektif diri sendiri.
Akibatnya, lawan bicara tidak diberi ruang untuk menyelesaikan kalimat atau gagasan yang sedang mereka sampaikan. Sikap ini dapat menimbulkan perasaan tidak dihargai oleh pihak yang sedang berbicara.
"Kebiasaan ini bisa membuat orang lain merasa tidak dihargai. Selain itu, sikap tersebut juga menunjukkan kurangnya kesabaran dan kemampuan untuk mendengarkan," ungkap Dave Smallen.
Kebiasaan kedua yang perlu diperhatikan adalah selalu berusaha membuat cerita sendiri terdengar lebih unggul atau lebih menarik. Ketika orang lain berbagi pengalaman, respons yang muncul adalah membalas dengan kisah yang dianggap lebih luar biasa.
Percakapan seharusnya menjadi ajang berbagi, bukan kompetisi untuk mencari perhatian atau validasi. Dave Smallen menyarankan adanya jeda untuk memahami perasaan lawan bicara sebelum kita mulai membagikan kisah pribadi.
"Dave Smallen menyarankan agar kita lebih dulu memahami perasaan lawan bicara sebelum menceritakan pengalaman sendiri," ujar Dave Smallen.