- HOTNEWS.ID - Proyek pembangunan Grass Root Refinery (GRR) atau Kilang Tuban terus bergerak maju. PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) secara resmi telah mengumumkan dimulainya tahapan prakualifikasi tender untuk Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC).
Langkah ini merupakan salah satu tahapan penting dalam realisasi kilang minyak berkapasitas besar tersebut. Namun, progres ini masih erat kaitannya dengan keputusan investasi final (FID) dari raksasa migas Rusia, PJSC Rosneft Oil Company.
PT Pertamina Patra Niaga (PPN) sebagai salah satu pihak terkait, menyatakan bahwa pihaknya masih menanti kepastian FID dari Rosneft. Keputusan ini menjadi krusial bagi kelanjutan dan pendanaan proyek senilai puluhan miliar dolar tersebut.
Wakil Direktur Utama PPN, Taufik Aditiyawarman, menyampaikan bahwa target terdekat perusahaan adalah menyelesaikan proses FID Rosneft di Kilang Tuban. Hal ini menjadi prioritas utama di tengah dinamika proyek.
"Next step-nya menyelesaikan FID sama menyelesaikan prosesnya Rosneft. Itu target sekarang, itu goals; [FID] targetnya," ujar Taufik kepada awak media di Kompleks Parlemen, Kamis (16/7/2026).
Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya komitmen Rosneft dalam memastikan proyek Kilang Tuban dapat berjalan sesuai rencana. Tanpa FID dari mitra strategisnya, langkah-langkah teknis seperti tender EPCC menjadi belum sepenuhnya final.
Sebelumnya, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, sempat meninjau langsung perkembangan proyek GRR Tuban. Kunjungan ini menunjukkan perhatian serius dari jajaran direksi Pertamina terhadap kemajuan salah satu proyek hilirisasi migas terbesar di Indonesia.
Dalam tinjauannya, Iriawan meminta penjelasan mendalam dari perwakilan PT PRPP mengenai berbagai aspek proyek. Diskusi ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap tahapan proyek berjalan lancar dan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Proyek Kilang Tuban sendiri diproyeksikan akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak nasional secara signifikan. Pembangunan kilang ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor produk minyak olahan dan petrokimia.