HOTNEWS.ID - Perundungan di lingkungan pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, masih menjadi ancaman nyata. Dampaknya tak hanya pada psikis, namun juga mental korban yang bisa berujung pada tindakan balasan.

Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi balas dendam, melainkan menjadi peringatan serius bahwa fenomena bullying masih marak terjadi. Bagi korban, penting untuk segera melapor kepada orang tua, guru, atau lembaga perlindungan anak seperti KPAI.

Dua kasus menjadi cerminan miris dampak bullying, menggarisbawahi sekolah belum sepenuhnya aman. Pertama, peristiwa di SMAN 72 Jakarta, di mana seorang siswa membawa senjata dan memasang bom sebagai bentuk balas dendam atas perundungan yang dialaminya.

Bom tersebut meledak di area masjid saat siswa hendak salat Jumat, menyebabkan beberapa korban terluka. Pelaku mengaku nekat melakukan aksi tersebut karena menjadi korban perundungan oleh rekan-rekannya.

"Di mana pelaku melakukan aksi karena menjadi korban bullying dari rekannya," ujar Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, Selasa (18/11/2025).

Kasus serupa terjadi di MAN 3 Padang, Sumatra Barat, di mana seorang siswa berinisial R melakukan ancaman bom sebagai bentuk balasan atas perundungan yang ia alami.

Aksi R ini terinspirasi dari kasus di SMAN 72 Jakarta, menunjukkan pola yang mengkhawatirkan dalam penanganan trauma akibat bullying. "Pelaku juga mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di SMA Negeri 72 Jakarta pada tahun 2025. Motif tersebut masih dalam proses pendalaman oleh TIM Penyelidik," kata Juru Bicara Densus 88 Kombes Mayndra Eka Wardhana dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7/2026).

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menyoroti kegagalan sistemik dalam menciptakan ekosistem sekolah yang aman dan berkeadilan. Ia berpendapat bahwa fokus pada capaian akademik mengesampingkan pendidikan karakter, empati, dan kecerdasan emosional.

"Sekolah saat ini masih berfokus pada capaian akademik dan penyelesaian beban administratif, sementara pendidikan karakter, empati, dan kecerdasan emosional dikesampingkan," katanya saat dihubungi Bisnis, Rabu (15/7/2026).