HOTNEWS.ID - Gelombang aksi korporasi yang dilancarkan oleh sejumlah emiten konglomerasi di Indonesia belakangan ini menandakan adanya pergeseran strategi bisnis yang signifikan. Perusahaan-perusahaan raksasa ini tidak lagi hanya fokus pada ekspansi semata.
Alih-alih, kini mereka lebih memprioritaskan penguatan ekosistem usaha yang sudah ada. Hal ini dilakukan melalui sinergi antarentitas bisnis serta optimalisasi aset yang dimiliki.
Salah satu contoh nyata datang dari Grup Sinarmas, melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA). Perusahaan ini melakukan transaksi afiliasi senilai Rp8,54 triliun kepada entitas anak, PT DSST.
Langkah ini bertujuan untuk memperkuat struktur bisnis perseroan secara keseluruhan. Selain itu, juga untuk membangun ekosistem layanan digital yang lebih kompetitif di pasar.
Selaras dengan itu, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) juga menunjukkan upaya serupa. Perusahaan ini berupaya memperkuat ekosistem kawasan yang dikelolanya.
Hal tersebut diwujudkan dengan penambahan modal kepada anak usahanya. Bersamaan dengan itu, CBDK juga memperluas jangkauan kegiatannya ke dalam bisnis Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition (MICE).
"Melalui penyertaan modal maupun akuisisi, integrasi bisnis dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan membangun usaha baru dari nol," ujar Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta.
Nafan Aji Gusta menilai, strategi baru ini menunjukkan bahwa para konglomerat tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan aset semata. Mereka kini lebih berorientasi pada penciptaan strategi yang terintegrasi antar unit usaha. Peningkatan kualitas pendapatan juga menjadi fokus utama.
"Strategi ini bertujuan untuk membangun ekosistem yang saling terhubung, sehingga setiap entitas dapat saling menciptakan permintaan, meningkatkan efisiensi biaya, memperkuat daya saing, hingga menghasilkan pendapatan berulang yang lebih stabil," jelas Nafan Aji Gusta.