HOTNEWS.ID - Perusahaan eksplorasi antariksa milik Elon Musk, SpaceX, resmi memulai debut perdana di bursa saham Nasdaq pada tanggal 12 Juni 2026. Debut ini sempat disambut euforia investor, yang mendorong harga sahamnya melonjak tinggi setelah penawaran umum perdana (IPO).

Harga penawaran IPO saham dengan kode emiten SPCX ini ditetapkan pada level US$135 per lembar. Pada hari perdagangannya, saham tersebut langsung menunjukkan performa impresif, bergerak naik dan sempat menyentuh kisaran US$150 per saham.

Menurut data yang dihimpun dari Ajaib sekuritas, harga tertinggi saham SPCX sejak resmi diperdagangkan di lantai bursa sempat mencapai US$218,93. Angka ini menjadi tolok ukur puncak valuasi sementara perusahaan tersebut di pasar publik.

Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama, sebab pada penutupan perdagangan terakhir hari Jumat, 26 Juni 2026, SPCX ditutup melemah 0,14% menjadi US$152,75. Penurunan ini menandakan bahwa saham tersebut telah mengalami koreksi sebesar 30,22% dari level tertingginya.

Dengan harga penutupan tersebut, kapitalisasi pasar SpaceX saat ini tercatat mencapai US$2,06 triliun, berdasarkan jumlah saham yang beredar sebanyak 7,57 miliar lembar. Meskipun terkoreksi, harga penutupan masih berada di atas harga penawaran awal IPO.

IPO SpaceX ini berhasil mengumpulkan dana publik dengan total sekitar US$75 miliar. Dilansir dari Ajaib sekuritas, pada hari pertama perdagangan, saham SpaceX sempat melonjak sekitar 19% dari harga IPO US$135, mencapai sekitar US$160,95, dengan valuasi sempat mendekati US$2,3 triliun.

Lonjakan awal tersebut turut mendongkrak nilai kepemilikan Elon Musk di SpaceX hingga mencapai sekitar US$866 miliar. Ajaib mencatat bahwa capaian ini mendorong estimasi kekayaan Musk melampaui US$1,0 triliun, menjadikannya orang pertama dengan status triliuner dari aset-aset yang dimilikinya.

"IPO ini mencerminkan tingginya appetite investor terhadap tema space economy, Al, satellite network, dan teknologi jangka panjang meskipun valuasi SpaceX sudah berada di level perusahaan terbesar dunia," tulis Ajaib, dikutip Sabtu (27/6/2026).

Meskipun terjadi koreksi harga yang signifikan, Ajaib menilai bahwa potensi sentimen positif masih ada bagi perusahaan terkait, seperti Tesla melalui efek "Elon premium", serta sektor AI, aerospace, dan semiconductor. Hal ini disebabkan investor kembali mencari eksposur terhadap teknologi disruptif.