HOTNEWS.ID - Kasus anemia yang masih tinggi di Indonesia membawa dampak signifikan terhadap perekonomian nasional, diperkirakan merugikan negara hingga Rp62,2 triliun setiap tahunnya. Kerugian ekonomi ini timbul bukan hanya karena masalah kesehatan semata, tetapi juga karena menurunnya kualitas sumber daya manusia dan produktivitas tenaga kerja.

Kondisi ini seringkali disebut sebagai hidden hunger atau kelaparan tersembunyi, yang menggerogoti potensi pembangunan jangka panjang Indonesia. Permasalahan ini memerlukan perhatian serius karena memengaruhi aspek kesehatan dan ekonomi secara simultan.

Nina Sardjunani, Direktur Yayasan Kegizian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI), menyoroti bahwa anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi kronis telah berkembang menjadi isu pembangunan yang mendesak. Beliau menekankan bahwa implikasi dari masalah ini jauh melampaui sekadar data kesehatan.

"Anemia bukan sekadar angka. Dia merampas kecerdasan anak dan kerugian Indonesia mencapai Rp62,2 triliun per tahun. Oleh karena itu ini bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga pembangunan nasional karena kehilangan produktivitas dan pendapatan," ujar Nina Sardjunani baru-baru ini.

Menurut Nina, tingginya prevalensi anemia di tengah masyarakat erat kaitannya dengan berbagai tantangan mendasar yang masih dihadapi, termasuk masalah sanitasi yang belum memadai, tingginya kasus infeksi berulang, serta keterbatasan akses terhadap air bersih.

Dalam konteks memerangi kekurangan gizi yang meluas ini, fortifikasi pangan dinilai sebagai salah satu instrumen intervensi yang paling efektif dan terjangkau untuk melindungi masyarakat. Nina Sardjunani menegaskan pentingnya peran ini dalam menghadapi kerentanan struktural yang ada.

"Fortifikasi menjadi benteng terakhir yang bisa melindungi masyarakat dari kerentanan struktural," katanya.

Beras dipilih sebagai komoditas utama dalam program fortifikasi karena posisinya yang sangat strategis sebagai makanan pokok yang dikonsumsi oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Tingkat konsumsi beras yang mencapai sekitar 95% menjadikannya kendaraan intervensi gizi yang paling efektif dibandingkan pangan lainnya.

"Kita adalah bangsa pemakan nasi. Kalau mau melakukan intervensi yang menjangkau semua orang, beras menjadi kendaraan yang paling efektif dibandingkan komoditas yang lain," tutur Nina.