HOTNEWS.ID - Industri penerbangan Indonesia selama ini menghadapi tantangan struktural berupa ketergantungan tinggi pada perusahaan leasing asing untuk pengadaan armada pesawat. Ketergantungan ini menciptakan kerentanan signifikan karena sebagian besar biaya operasional, termasuk sewa, perawatan, dan suku cadang, dibayarkan menggunakan mata uang asing, terutama Dolar Amerika Serikat (AS).

Ketika nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dolar AS, maskapai penerbangan domestik langsung merasakan peningkatan tekanan biaya operasional yang cukup besar. Hal ini mendorong munculnya wacana mengenai pembentukan perusahaan leasing pesawat nasional sebagai mitigasi terhadap gejolak eksternal tersebut.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) diketahui tengah aktif mengkaji pembentukan entitas leasing domestik tersebut. Kajian ini bertujuan untuk menyediakan alternatif pembiayaan armada bagi maskapai dalam negeri, seperti diungkapkan oleh Kepala Badan Pelaksana BUMN, Doni Oskaria.

Langkah Danantara ini semakin menguat seiring dengan adanya inisiatif pembiayaan penerbangan yang sudah ada sebelumnya. Sebelumnya, Danantara Investment Management telah mengumumkan kerja sama dengan SMBC Aviation Capital dan Mandiri Investment Management melalui pembentukan Mandiri Aviation Leasing Fund.

Platform investasi leasing penerbangan perdana di Indonesia tersebut dilaporkan memiliki portofolio awal yang cukup substansial, yakni sekitar US$800 juta. Hal ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk membangun infrastruktur pembiayaan penerbangan domestik.

Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Bayu Sutanto, menyambut baik prospek hadirnya lessor lokal yang dapat memberikan fleksibilitas finansial bagi maskapai. "Kalau ada lessor lokal akan membantu operator dalam pengadaan pesawat apalagi kalau sewanya dalam rupiah. Kita tunggu aja kelanjutannya," kata Bayu ketika dihubungi, Selasa (9/6/2026).

Manfaat utama yang diharapkan dari skema sewa berbasis Rupiah adalah pengurangan eksposur maskapai terhadap volatilitas nilai tukar mata uang asing. "Kalau dengan sewa dalam rupiah ya kita enggak nanggung rugi selisih kurs saat USD naik. Ini lebih untuk mengurangi exposure mata uang dolar dalam struktur biaya," ujarnya.

Biaya sewa pesawat sendiri merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar bagi maskapai, berkisar antara 25% hingga 30% dari total pengeluaran, menjadikannya sangat sensitif terhadap fluktuasi kurs. Dengan demikian, kehadiran lessor nasional diharapkan dapat menstabilkan pos biaya krusial ini.

Namun, Wakil Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bidang Ekosistem Transportasi Udara, Elfi Amir, mengingatkan bahwa dampak langsung terhadap harga tiket pesawat mungkin tidak akan terasa dalam waktu dekat. "Leasing nasional lebih tepat dipandang sebagai fondasi strategis bagi ekosistem penerbangan nasional daripada solusi langsung terhadap mahalnya harga tiket saat ini," ujarnya.