HOTNEWS.ID - Kabar mengenai potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang sempat mengemuka di tengah masyarakat dalam sepekan terakhir kini telah mendapatkan bantahan resmi dari jajaran manajemen TikTok dan Tokopedia. Penegasan ini disampaikan menyusul serangkaian pertemuan internal penting yang telah dilaksanakan oleh kedua entitas bisnis tersebut.
Pihak eksekutif dari perusahaan hasil kolaborasi ini merasa perlu memberikan klarifikasi yang tegas terkait situasi sumber daya manusia (SDM) di tengah entitas gabungan mereka. Klarifikasi ini menjadi krusial untuk meredam berbagai spekulasi dan kekhawatiran yang sempat muncul di kalangan publik maupun internal karyawan.
Peristiwa ini berpusat di Jakarta, di mana manajemen berusaha mengendalikan narasi publik mengenai masa depan tenaga kerja pasca restrukturisasi operasional. Momentum ini menandai respons cepat manajemen terhadap gejolak informasi yang beredar luas.
Executive Director of Tokopedia and TikTok Shop Indonesia, Stephanie Susilo, tampil sebagai perwakilan utama dalam menyampaikan pernyataan resmi tersebut. Ia memegang peran kunci dalam mengkomunikasikan posisi perusahaan kepada publik dan media.
Stephanie Susilo secara tegas memastikan bahwa narasi mengenai adanya PHK massal tidak mencerminkan kondisi operasional perusahaan saat ini. Hal ini menjadi titik balik penting untuk mengembalikan kepercayaan publik.
"Narasi PHK massal tidak sesuai dengan kondisi operasional perusahaan saat ini," ujar Stephanie Susilo.
Dilansir dari JAKARTAHYPE.COM, penekanan manajemen adalah pada aspek stabilitas ketenagakerjaan sebagai prioritas utama pasca integrasi. Hal ini menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap aset sumber daya manusia yang dimiliki.
Lebih lanjut, alih-alih melakukan pemotongan tenaga kerja, manajemen justru mengumumkan pembukaan ratusan posisi baru. Langkah ini menjadi bukti konkret bahwa entitas gabungan ini tengah berfokus pada pengembangan dan ekspansi operasional, bukan pengurangan staf.
Pembukaan lowongan baru ini diharapkan dapat menyerap tenaga kerja yang sempat merasa khawatir dan sekaligus memperkuat kapasitas kerja untuk menghadapi tantangan bisnis ke depan. Ini adalah strategi proaktif manajemen untuk menunjukkan pertumbuhan yang berkelanjutan.