HOTNEWS.ID - Perkembangan terbaru dalam program persenjataan Tiongkok memicu reaksi keras dari Pemerintah Amerika Serikat. Eskalasi ini ditandai dengan dilakukannya uji coba penembakan rudal yang dilakukan langsung dari kapal selam berkekuatan nuklir milik Republik Rakyat Tiongkok.
Manuver militer ini dipandang sebagai langkah signifikan dalam upaya modernisasi armada pertahanan Tiongkok yang berlangsung dengan sangat cepat dalam beberapa waktu terakhir. Modernisasi ini terus menjadi sorotan utama geopolitik global saat ini.
Uji coba rudal yang menjadi fokus perhatian ini dilaporkan telah dilaksanakan pada hari Senin, tepatnya tanggal 6 Juli. Lokasi pelaksanaan penembakan tersebut berada di wilayah Samudra Pasifik yang luas dan terbuka.
Peristiwa ini bukanlah yang pertama kali menarik perhatian internasional dalam konteks penembakan jarak jauh. Kejadian ini terjadi selang dua tahun setelah Tiongkok melakukan peluncuran rudal balistik antarbenua ke perairan internasional.
Peluncuran rudal dua tahun lalu itu memiliki catatan historis karena merupakan penembakan pertama rudal antarbenua di atas perairan internasional dalam kurun waktu lebih dari empat dekade terakhir. Hal ini menunjukkan peningkatan kapasitas yang berkelanjutan.
Para analis militer memberikan pandangan bahwa uji coba terbaru ini menggarisbawahi kemajuan kemampuan Tiongkok. Kemampuan tersebut kini mencakup potensi untuk menyerang langsung ke wilayah daratan Amerika Serikat.
Amerika Serikat secara terbuka memandang kekuatan Asia Timur tersebut sebagai pesaing utama mereka dalam kancah global. Pandangan ini tetap kuat meskipun terdapat upaya-upaya untuk meredakan ketegangan di bawah administrasi Presiden Donald Trump saat itu.
Dikutip dari sumber mengenai isu ini, pemerintah Amerika Serikat mengungkapkan kekhawatiran yang mendalam atas perkembangan program nuklir dan persenjataan Beijing. Kekhawatiran tersebut muncul sebagai respons langsung terhadap uji coba rudal kapal selam tersebut.
Dilansir dari sumber berita, uji coba rudal di Samudra Pasifik pada hari Senin (6/7) itu terjadi dua tahun setelah China menembakkan rudal balistik antarbenua ke perairan dekat Polinesia Prancis, yang merupakan peluncuran pertama rudal semacam itu di atas perairan internasional dalam lebih dari 40 tahun.