HOTNEWS.ID - Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, telah beberapa kali menaikkan kuota penjualan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030. Produk investasi ini disambut antusias oleh investor ritel, menunjukkan daya tarik yang kuat di pasar keuangan.
Produk ORI030, yang ditawarkan dengan kupon menarik, telah mengalami dua kali penambahan kuota oleh DJPPR. Target awal sebesar Rp20 triliun kini telah ditingkatkan menjadi Rp30 triliun, mencerminkan tingginya permintaan.
Data terkini dari Bibit sebagai mitra distribusi menunjukkan bahwa ORI030-T3 telah hampir ludes terjual senilai Rp22,19 triliun, menyisakan hanya 11,5% atau Rp2,88 triliun dari target. Sementara itu, ORI030-T6 juga mencatat penjualan kuat dengan sisa Rp1,36 triliun dari total Rp3,62 triliun yang telah terjual.
Dalam 11 hari perdagangan, realisasi penjualan ORI030 menunjukkan performa yang jauh berbeda dibandingkan ORI029. Produk sebelumnya hanya berhasil mencapai 57,76% dari target Rp25 triliun, menjadikannya produk dengan realisasi penjualan terburuk sepanjang tahun 2026.
Perbedaan performa ini dijelaskan oleh Chandra Wibowo, Analis Keuangan Ahli Madya dan Kepala Tim Pengembangan dan Pendalaman Pasar Surat Utang Negara DJPPR. Menurutnya, tingkat imbal hasil yang ditawarkan ORI030 jauh lebih menarik dibandingkan ORI029.
"Artinya dari sisi pricingnya sendiri, ORI030 ini lebih menarik bagi investor di kondisi sekarang jika dibandingkan dengan BI Rate saja. Walaupun sebenarnya kita melihat SRBI pun dalam beberapa pekan terakhir kan juga relatif tinggi ya," ujar Chandra Wibowo dalam acara UOB Media Literacy, Kamis (16/7/2026).
Selain itu, ORI030 menawarkan keuntungan tambahan berupa jatuh tempo produk SBN Ritel lain, yaitu ORI023-T3 pada 15 Juli 2026, senilai Rp20 triliun. Hal ini menciptakan momentum reinvestasi bagi investor.
Chandra Wibowo juga menyoroti preferensi investor ritel terhadap tenor pendek. "Dan ini tidak hanya terjadi di ORI030. Hampir semua SBN Ritel yang kami tawarkan dalam 2 tenor, pasti yang lebih laris adalah tenor pendek. Ini sepertinya memang appetite dari investor individu itu cenderung ke instrumen-instrumen yang jangka pendek," jelasnya.
Direktur SUN DJPPR, Novi Puspita Wardani, menyatakan bahwa pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk kembali menambah kuota penerbitan ORI030. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pembiayaan dan fleksibilitas penerbitan.