HOTNEWS.ID - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) pada Senin, 20 Juli 2026, menunjukkan dinamika yang cukup fluktuatif. Mata uang Garuda sempat membukukan penguatan tipis di awal sesi perdagangan.

Rupiah tercatat menguat 0,04% terhadap dolar Amerika Serikat di level Rp17.985 per dolar AS. Namun, penguatan ini tidak bertahan lama.

Tak lama berselang, pada pukul 07:00 WIB, rupiah mengalami pelemahan menjadi Rp18.010 per dolar AS. Tren pelemahan ini kemudian sedikit tertahan.

Sebelum akhirnya berhasil memangkas sebagian pelemahannya menjadi Rp17.999 per dolar AS pada pukul 08:03 WIB. Pergerakan ini mencerminkan keraguan pasar terhadap penguatan rupiah.

Ketidakpastian yang merajai kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menahan potensi penguatan rupiah lebih lanjut. Situasi ini dipicu oleh eskalasi aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran.

Pasar menilai bahwa eskalasi konflik tersebut masih jauh dari kata mereda. Hal ini diperparah dengan laporan serangan Iran pada Jumat yang dikabarkan menewaskan dua personel militer AS di Yordania.

Dampak dari ketegangan geopolitik ini turut dirasakan pada pasar komoditas energi. Harga minyak mentah Brent terpantau kembali mengalami kenaikan sebesar 2,61%.

Minyak mentah Brent diperdagangkan di level US$90,4 per barel pada pukul 07:35 WIB, melanjutkan tren peningkatan yang telah terjadi sejak awal pekan sebelumnya.

Sementara itu, indeks dolar Amerika Serikat juga menunjukkan ketahanan dengan tetap bertengger di level yang tinggi, yakni 100,8. Penguatan dolar ini memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang.