HOTNEWS.ID - Pasar saham di kawasan Asia mengalami penurunan signifikan, mengikuti jejak koreksi tajam yang terjadi pada sektor teknologi di Wall Street. Kekhawatiran investor mengenai potensi imbal hasil dari investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) menjadi pemicu utama pelemahan ini.
Indeks MSCI Asia Pasifik tercatat terkoreksi sebesar 0,8%. Penurunan ini terlihat kompak pada indeks-indeks utama di Jepang, Korea Selatan, dan Australia.
Kondisi serupa sebelumnya sudah dialami pasar Amerika Serikat, di mana indeks S&P 500 turun 1,2%, catatan penurunan harian terbesar dalam sebulan terakhir. Indeks Nasdaq 100, yang didominasi saham-saham teknologi, juga terkikis 1,9%.
Bahkan, indikator saham-saham berkapitalisasi raksasa (megacaps) mencatatkan sesi terburuknya sejak isu tarif pada April 2025. Hal ini mengindikasikan adanya penarikan diri investor dari aset-aset yang dianggap berisiko tinggi.
"Sentimen negatif ini dipicu oleh keraguan investor apakah belanja miliaran dolar untuk pengembangan AI akan menghasilkan imbal hasil yang sepadan," demikian analisis yang disampaikan dalam laporan Bloomberg.
Meskipun demikian, terdapat sedikit optimisme yang muncul dari pergerakan kontrak berjangka (futures) Nasdaq 100 yang menguat tipis 0,1%. Hal ini diharapkan dapat sedikit menstabilkan sentimen pasar secara keseluruhan.
Selain itu, saham Intel Corp menunjukkan performa positif dengan melonjak 3,5% pada perdagangan setelah jam penutupan pasar. Lonjakan ini terjadi setelah proyeksi kinerjanya melampaui ekspektasi para analis di Wall Street.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent menunjukkan ketahanan dengan bertahan di level tinggi. Harga minyak ditutup di atas US$100 per barel, sebuah level tertinggi sejak Mei.
"Kenaikan harga minyak ini mendorong penurunan harga obligasi pemerintah AS (Treasury) dan memperkuat dolar AS," jelas analisis lanjutan dari laporan tersebut. Fenomena ini semakin memicu kekhawatiran akan inflasi dan potensi kenaikan suku bunga acuan.