HOTNEWS.ID - Harga minyak mentah dunia dilaporkan sedang menuju lonjakan mingguan yang signifikan. Hal ini dipicu oleh perkembangan terbaru di Timur Tengah yang membuka front baru dalam konflik regional.

Serangan yang dilancarkan oleh kelompok Houthi terhadap sebuah kapal tanker di Laut Merah menjadi penyebab utama kekhawatiran pasar energi. Insiden ini menambah ketegangan yang sudah ada di wilayah tersebut.

West Texas Intermediate (WTI), salah satu patokan harga minyak, terpantau stabil di atas angka US$92 per barel. Kenaikan ini mencerminkan penguatan sekitar 12% sepanjang minggu ini.

Sementara itu, harga minyak Brent juga menunjukkan tren positif. Brent ditutup melampaui US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak bulan Mei lalu.

Menanggapi situasi tersebut, Presiden Donald Trump memberikan peringatan keras. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat akan melancarkan "hukuman militer besar" kepada Iran dan Houthi jika terjadi serangan lanjutan terhadap jalur pelayaran di Laut Merah.

Presiden Trump juga menyampaikan kepada Axios bahwa ia tengah mempertimbangkan opsi "serangan besar-besaran" terhadap Republik Islam Iran dalam menghadapi eskalasi ini.

Kenaikan harga minyak pada bulan ini memang telah diprediksi seiring meningkatnya permusuhan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk Persia. Ketegangan ini mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz.

Gangguan di Selat Hormuz secara langsung memperlambat aliran pasokan minyak mentah dan gas alam cair ke pasar global. Kekhawatiran akan terputusnya pasokan semakin meningkat.

Serangan pertama terhadap kapal tanker Arab Saudi yang dilakukan oleh militan Houthi yang didukung Iran di Laut Merah telah memicu kekhawatiran akan terjadinya gangguan pasokan yang lebih luas di seluruh wilayah.