HOTNEWS.ID - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN tengah mematangkan berbagai strategi guna mengakselerasi pencapaian target ambisius pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga mencapai 100 gigawatt (GW). Target besar ini merupakan amanat yang dicanangkan oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk mempercepat transisi energi nasional.

Realisasi dari program besar ini sangat bergantung pada tiga faktor krusial, yaitu kepastian ketersediaan pendanaan, kesiapan infrastruktur jaringan listrik, serta ketepatan jadwal pelaksanaan proyek. Hal ini menjadi penentu utama apakah target energi bersih dapat tercapai sesuai harapan.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menguraikan bahwa pihaknya telah menetapkan serangkaian target quick wins sebagai langkah awal pendukung program PLTS 100 GW tersebut. Tahap awal ini difokuskan pada pembangunan PLTS dengan kapasitas mencapai 27,4 gigawatt peak (GWp) yang akan diintegrasikan dengan sistem Penyimpanan Energi Baterai (BESS) berkapasitas 82,5 gigawatt hour (GWh).

Salah satu fokus utama dalam strategi quick wins ini adalah pelaksanaan program yang dinamakan fat burning program. Program ini bertujuan untuk mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam sistem kelistrikan berskala besar di Indonesia.

"Untuk fat burning program ini, PLN menyiapkan pembangunan PLTS berkapasitas 6,9 GWp yang didukung BESS sebesar 15,5 GWh," jelas Darmawan Prasodjo saat memberikan keterangan dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Minggu (5/7/2026).

Selain itu, PLN juga memprioritaskan pengembangan PLTS sebesar 7 GWp yang didukung tambahan BESS berkapasitas 28 GWh. Pengembangan ini sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan, khususnya di wilayah Pulau Jawa.

Langkah inovatif lainnya adalah pemanfaatan lahan di area waduk untuk pengembangan PLTS terapung (floating solar PV). PLN telah mengidentifikasi potensi lahan seluas sekitar 10.000 hektare di waduk-waduk yang dapat menampung pembangunan PLTS berkapasitas 10,3 GWp dan sistem BESS sebesar 30 GWh.

Program pemanfaatan waduk ini ditargetkan dapat terealisasi pada tahun 2028 sebagai bagian dari percepatan pengembangan energi baru terbarukan di dalam negeri. "Karena ini adalah waduk, lahannya sudah tersedia dan kami perlu bekerja sama dengan Kementerian PU dan Kementerian ESDM, sehingga pembangunan ini bisa berjalan dengan cepat," ujar Darmawan Prasodjo.

PLN juga melakukan pemetaan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang masih beroperasi di berbagai daerah untuk digantikan dengan energi bersih. Darmawan mengungkapkan bahwa terdapat 741 lokasi PLTD yang saat ini masih mengonsumsi sekitar 800.000 kiloliter BBM per tahun.