HOTNEWS.ID - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) tengah gencar melakukan perampingan portofolio bisnis sebagai bagian dari mandat pemegang saham untuk menyederhanakan struktur korporasi. Langkah strategis ini bertujuan memfokuskan perusahaan pada kompetensi inti dan meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan.

Proses restrukturisasi ini mencakup divestasi dua anak usaha di sektor layanan kesehatan, yaitu AdMedika dan Telkomedika, yang telah dilepas kepada perusahaan asal Singapura, Fullerton Health. Aksi ini merupakan bagian dari upaya Telkom untuk memangkas jumlah entitasnya dari total 67 anak usaha menjadi kurang dari 20 entitas.

Keputusan penyederhanaan portofolio ini ditegaskan sebagai mandat langsung dari Danantara Indonesia sebagai pemegang saham institusi milik negara. "Kami harus menyederhanakan portofolio bisnis yang sekarang tumpang tindih, dan merampingkan jumlah anak perusahaan menjadi di bawah 20 anak perusahaan," ujar Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini saat rapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Selain divestasi, Telkom juga mengambil langkah tegas dengan melikuidasi enam anak usaha yang dinilai tidak memberikan nilai tambah signifikan bagi grup. Keenam entitas yang ditutup tersebut adalah PT Citra Sari Makmur, PT Media Nusantara Data Global, PT Omni Inovasi Indonesia, Sigma AIT Bhd, PT Alam Pesona Wisata, dan PT Pojok Celebes Mandiri.

Dian Siswarini menjelaskan bahwa penutupan entitas ini dilakukan karena perusahaan-perusahaan tersebut berada di luar kekuatan inti (core strength) perusahaan. "Untuk streamlining ini kami sudah menutup beberapa perusahaan yang juga di luar dari core strength kami dan juga tidak memberikan value, atau bahkan menggerus value atau hasil dari Telkom Group," kata Dian.

Langkah efisiensi ini sejalan dengan pandangan Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, yang menekankan pentingnya penataan portofolio untuk merespons dinamika industri digital yang berubah cepat. "Transformasi ini penting untuk memperkuat fokus bisnis dan memastikan Telkom Group bergerak lebih agile dalam menjawab kebutuhan ekosistem digital nasional," ujar Dony dalam keterangan resmi.

Selain pemangkasan anak usaha, transformasi Telkom juga berfokus pada penguatan infrastruktur strategis, termasuk penggabungan jaringan serat optik melalui FiberCo BUMN, ekspansi data center, optimalisasi aset menara melalui TowerCo, serta penguatan InfraCo. Selain itu, Telkom juga melakukan penataan ulang lisensi operasional di lingkungan grup untuk meningkatkan adaptabilitas bisnis.

Dilansir dari Bisnis.com, Telkom juga sedang memproses pengalihan aset serat optik ke entitas Infranexia, dengan target penyelesaian sisa pengalihan pada kuartal III/2026. "Kami mengharapkan untuk fase kedua itu bisa dilaksanakan dengan target penyelesaian pada kuartal ketiga 2026," pungkas Dian.

Fase pertama pengalihan aset serat optik telah rampung, di mana nilai aset fiber yang dipindahkan mencapai Rp35,8 triliun. Aset yang dialihkan pada tahap awal ini meliputi infrastruktur vital jaringan telekomunikasi, mulai dari jaringan akses hingga jaringan tulang punggung (backbone).