HOTNEWS.ID - Setiap orang mendambakan hubungan yang harmonis, di mana rasa saling menghargai, dukungan, dan komunikasi yang baik menjadi fondasi utamanya. Baik dalam pertemanan, ikatan keluarga, maupun jalinan asmara, relasi yang positif memang mampu memberikan kenyamanan dan menunjang pertumbuhan diri.

Namun, tak semua interaksi mampu memberikan dampak yang membangun. Terdapat perilaku-perilaku tertentu yang mungkin terlihat remeh pada awalnya, namun jika dibiarkan berulang, dapat menguras energi emosional, meruntuhkan rasa percaya diri, hingga membuat seseorang merasa tidak dihargai.

Untuk itu, penting untuk mengenali karakteristik toxic dalam hubungan sejak dini. Psikiater Ralph Ryback, M.D., dalam ulasannya yang dikutip oleh Your Tango, memaparkan beberapa tipe perilaku yang patut diwaspadai agar hubungan dapat tetap terjaga kesehatannya.

Salah satu indikator hubungan yang merusak adalah kebiasaan mengkritik yang berlebihan. Pemberian kritik yang membangun memang esensial, namun menjadi toxic ketika selalu bernada meremehkan dan hanya terfokus pada kekurangan.

"Orang dengan sifat ini sering mengomentari hampir semua hal yang dilakukan orang lain tanpa pernah memberikan apresiasi. Bahkan, mereka cenderung menyerang pribadi seseorang, bukan membahas masalahnya," jelas psikiater Ralph Ryback, M.D.

Perilaku ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental. Jika terus-menerus dialami, seseorang bisa merasa tidak pernah cukup baik dan kehilangan keyakinan pada kemampuannya sendiri.

Pola komunikasi yang tidak sehat lainnya adalah kecenderungan menyindir daripada berbicara terus terang. Sikap ini seringkali muncul ketika seseorang merasa kesal namun memilih untuk menyimpannya dan mengungkapkannya melalui sindiran atau sikap dingin.

Akibatnya, orang di sekitar dipaksa untuk menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi, memicu kesalahpahaman dan membuat hubungan terasa melelahkan. Komunikasi yang terbuka dinilai jauh lebih efektif.

Selanjutnya, waspadai individu yang selalu ingin menjadi pusat perhatian. Kepercayaan diri memang positif, namun menjadi bumerang ketika seseorang selalu berusaha mengarahkan pembicaraan kembali pada dirinya sendiri.