HOTNEWS.ID - Pertandingan krusial akan tersaji di babak perempat final Piala Dunia 2026 ketika tim nasional Inggris dijadwalkan berhadapan dengan timnas Norwegia. Momen ini tidak hanya menarik perhatian penggemar sepak bola, tetapi juga menciptakan suasana persaingan di tingkat politik antarnegara.

Situasi ini dipanaskan lebih lanjut oleh interaksi antara Perdana Menteri (PM) kedua negara yang secara terbuka saling mengunggulkan tim masing-masing. Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Store, menjadi salah satu figur yang memulai "perang kata-kata" ini menjelang laga penting tersebut.

Aksi nyata dari PM Store adalah ketika ia mengunggah sebuah momen pribadi di media sosial. Momen tersebut menampilkan dirinya sedang memamerkan seragam kebanggaan timnas Norwegia di sela-sela agenda penting kenegaraan.

Hal ini terjadi dalam konteks pertemuan dengan para pemimpin negara anggota NATO yang sedang berlangsung. Di tengah kesibukan diplomasi tingkat tinggi tersebut, isu sepak bola internasional tetap menjadi topik hangat yang tak terhindarkan.

Dalam kesempatan tersebut, PM Store juga sempat berbincang santai dengan PM Inggris, Keir Starmer. Percakapan informal mereka membahas prediksi mengenai hasil akhir dari pertandingan akbar antara Inggris dan Norwegia.

Laga yang dinanti ini dijadwalkan berlangsung pada hari Minggu, 12 Juli 2026, sesuai dengan zona waktu Indonesia, atau Sabtu malam, 11 Juli 2026, jika merujuk pada waktu Amerika Serikat. Ini menandai titik balik penting dalam turnamen akbar tersebut.

Dikutip dari sumber berita, PM Jonas Gahr Store menyampaikan optimisme tinggi terhadap peluang timnya. "Kami siap untuk perempat final Piala Dunia! Inggris belajar untuk tenang ketika saya bertemu Perdana Menteri Starmer selama sidang kejuaraan NATO hari ini," ujar Store.

Ia melanjutkan pernyataan penuh semangat tersebut dengan menegaskan dukungan totalnya terhadap skuad yang akan bertanding di lapangan. "Saya akan mendukung kemenangan Norwegia pada hari Sabtu!" kata Jonas Gahr Store.

Interaksi politik dan olahraga ini menunjukkan bagaimana momentum besar seperti Piala Dunia mampu melintasi batas-batas formalitas kenegaraan. Kedua pemimpin negara tersebut menggunakan platform mereka untuk menyemangati pendukung masing-masing.