HOTNEWS.ID - Sebuah insiden mengejutkan terjadi di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang melayani distribusi BBM bersubsidi di kawasan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Kejadian yang melibatkan dua orang perempuan ini memicu kehebohan di tengah aktivitas pengisian bahan bakar pada Kamis siang kemarin.
Peristiwa ini berpusat pada jalur antrean yang dikhususkan untuk kendaraan yang berhak mengisi BBM subsidi. Ketegangan yang terjadi antara dua emak-emak tersebut diketahui meningkat drastis hingga berujung pada kontak fisik yang tidak dapat dihindari.
Suasana di SPBU tersebut sontak menjadi sorotan utama bagi para pengunjung dan pengendara lain yang tengah berada di lokasi. Banyak warga yang sempat menghentikan kegiatan mereka sejenak untuk menyaksikan perkembangan dari keributan yang terjadi di area antrean.
Beberapa orang pengunjung SPBU dilaporkan segera bertindak cepat untuk mencoba menengahi perselisihan tersebut. Upaya ini dilakukan untuk mencegah situasi yang sudah panas agar tidak semakin memburuk dan menimbulkan potensi insiden yang lebih besar.
Menurut keterangan yang diperoleh dari para saksi mata di lokasi kejadian, pertikaian awal antara kedua perempuan tersebut hanya berupa adu mulut atau cekcok biasa. Namun, situasi berubah drastis seiring meningkatnya intensitas emosi yang dirasakan oleh kedua belah pihak.
"Kedua perempuan tersebut semula hanya terlibat cekcok," ujar salah satu saksi mata di lokasi.
Emosi yang tidak terbendung tersebut kemudian menjadi pemicu utama yang mengubah perdebatan verbal menjadi aksi saling cakar. Kontak fisik ini menjadi puncak dari perselisihan yang terjadi di tengah antrean panjang tersebut.
Insiden yang menarik perhatian publik ini kemudian diberitakan lebih lanjut oleh media pada hari Jumat, tanggal 26 Juni 2026. Dikutip dari detikKalimantan, berita mengenai kericuhan di SPBU Kotawaringin Barat ini mulai tersebar luas.
Perkelahian fisik yang terjadi di jalur antrean BBM subsidi ini membuktikan adanya potensi gesekan sosial yang muncul akibat antrean panjang dan kebutuhan mendesak terhadap bahan bakar bersubsidi di wilayah tersebut.