HOTNEWS.ID - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam industri telekomunikasi global, terutama di kawasan Asia Pasifik dan Cina. Kawasan ini kini memimpin dalam adopsi AI, tidak hanya sebagai alat penghematan biaya, tetapi sebagai sumber pertumbuhan pendapatan baru yang konkret.

Pergeseran paradigma ini terungkap melalui riset terbaru dari GSMA Intelligence yang dipresentasikan dalam acara MWC 2026 di Shanghai. Implementasi AI kini terintegrasi erat dengan infrastruktur pintar, perluasan jaringan 5G Standalone (5G SA), dan komersialisasi komputasi berbasis awan, membuka potensi monetisasi B2B yang lebih besar.

Menurut Pablo Lacopino, Head of Research and Commercial Content Strategy GSMA Intelligence, korporasi besar di Asia Pasifik menunjukkan kecepatan adopsi AI yang luar biasa tinggi. Dinamika ini menciptakan peluang strategis bagi penyedia konektivitas untuk berintegrasi lebih dalam ke dalam ekosistem operasional perusahaan.

Data menunjukkan bahwa sekitar 85% perusahaan besar di Cina dan Asia Pasifik telah memanfaatkan AI dalam operasional mereka, melampaui rata-rata global sebesar 82% dan Eropa sebesar 74%. Hal ini menegaskan dominasi regional dalam pemanfaatan teknologi ini.

"Apa yang kami lihat adalah Cina dan Asia Pasifik memimpin menggunakan penggunaan AI. Daerah Asia Pasifik menunjukkan kemajuan yang lebih cepat dalam implementasi AI," ujar Pablo Lacopino saat berbicara di MWC 2026 pada Kamis (26/6/2026).

Dilansir dari Bisnis.com, terdapat pergeseran fokus proyek AI antara kuartal II/2025 dan kuartal I/2026, dari orientasi penghematan biaya menjadi pendorong pendapatan langsung. Meskipun secara global porsi pendapatan dari AI naik menjadi 38% pada Q1/2026 (dari 16% pada Q2/2025), Asia Pasifik menunjukkan angka yang lebih tinggi.

Di kawasan Asia Pasifik dan Cina, sebanyak 45% inisiatif AI operator telekomunikasi dirancang untuk memacu pendapatan, sementara 55% sisanya masih berfokus pada efisiensi operasional. Perbedaan ini menunjukkan langkah monetisasi yang lebih agresif di kawasan tersebut.

Pablo Lacopino menekankan bahwa transisi ini didukung oleh kematangan infrastruktur 5G yang memungkinkan pemrosesan data berkecepatan tinggi berjalan seiring implementasi AI. "Bagi Telco, AI tidak lagi hanya alat efisiensi, tetapi menjadi pengembara peningkatan uang dan inovasi," kata beliau.

Infrastruktur jaringan masa depan terus berkembang, dengan 19 operator di 14 negara telah menggelar jaringan 5G Advanced, di mana Cina menjadi penggerak utama. Kombinasi AI, 5G, Cloud, dan Edge membentuk dasar infrastruktur digital pintar modern yang esensial bagi bisnis.