HOTNEWS.ID - Kinerja sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional sepanjang semester I tahun 2026 menghadapi hambatan signifikan, terutama dalam pencapaian target produksi minyak. Meskipun investasi di sektor ini mulai menunjukkan pemulihan tren positif dalam beberapa tahun terakhir, realisasi produksi minyak mentah nasional masih berada di bawah patokan yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Data yang dihimpun oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mencatat bahwa realisasi produksi minyak baru mencapai 576.200 barel per hari (bph) hingga penghujung Mei 2026. Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan sekitar 33.800 bph dari target APBN 2026 yang dipatok sebesar 610.000 bph.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, merinci bahwa capaian produksi hingga Mei 2026 terdiri dari minyak mentah sebesar 491.300 bph, kondensat sebanyak 55.800 bph, serta natural gas liquids (NGL) sejumlah 29.100 bph.
Djoko menjelaskan bahwa capaian produksi sempat mengalami tekanan signifikan di awal tahun akibat adanya insiden kebocoran pipa gas yang dioperasikan oleh PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pada jalur Grissik–Duri di Riau. Gangguan teknis ini berdampak langsung pada operasional tujuh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah Terminal Dumai dan dua pemasok gas lainnya.
"Setelah teratasi kembali naik. Namun demikian, setelah itu ada masalah kelistrikan di PHR [Pertamina Hulu Rokan] dan penurunan produksi di Banyu Urip, di mana dua blok migas ini penopang terbesar produksi nasional kita," kata Djoko Siswanto mengenai kendala lanjutan yang dihadapi.
Berbanding terbalik dengan kondisi minyak, sektor gas bumi menunjukkan perkembangan kinerja yang relatif lebih positif selama periode yang sama. SKK Migas mencatat realisasi produksi gas bumi telah mencapai 6.550 juta kaki kubik per hari (MMscfd) hingga akhir Mei 2026, dengan penyaluran gas mencapai 5.207 MMscfd.
Tingkat pencapaian produksi dan penyaluran gas bumi tersebut sudah mendekati 95% dari target APBN 2026, yaitu 6.787 MMscfd untuk produksi dan 5.400 MMscfd untuk salur gas. Kinerja gas yang lebih baik ini disebut tidak terlepas dari dominasi temuan cadangan migas baru yang sebagian besar didominasi oleh gas, bukan minyak.
Kondisi ini sekaligus menyoroti tantangan struktural subsektor minyak, terutama minimnya penemuan cadangan minyak baru selama lebih dari satu dekade terakhir. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas), Elan Biantoro, mengingatkan bahwa momentum tahun sebelumnya sempat positif karena lifting minyak berhasil melampaui target APBN 2025.
"Momentum tahun lalu sudah bagus. Setelah lebih dari 10 tahun umumnya mengalami decline, kita berhasil mencatat kenaikan produksi atau lifting di atas target APBN," kata Elan Biantoro kepada Bisnis pada Selasa (23/6/2026), menekankan pentingnya menjaga tren positif tersebut.