HOTNEWS.ID - Pemerintah Indonesia tengah menggalakkan upaya signifikan untuk meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap total ekspor nasional. Target ambisius yang ditetapkan adalah menaikkan porsi ekspor manufaktur hingga mencapai 30% dari keseluruhan penjualan sektor tersebut.
Produk baja dengan nilai tambah, khususnya baja lapis dan berbagai produk hilir, dipandang memiliki prospek cerah untuk menjadi pendorong utama tercapainya target peningkatan ekspor tersebut. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat struktur industri baja dari hulu hingga hilir.
Dilansir dari Bisnis.com, Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Harry Warganegara, menyoroti komposisi ekspor besi dan baja Indonesia saat ini. Struktur ekspor masih didominasi oleh produk dalam kelompok HS 72, terutama ferroalloy berupa ferronikel, yang merupakan hasil dari program hilirisasi nikel nasional.
Selain ferronikel, portofolio ekspor baja Indonesia juga mencakup komoditas seperti crude steel, hot rolled coil (HRC), cold rolled coil (CRC), plate, dan wire rod. Meskipun demikian, potensi pertumbuhan terbesar terletak di segmen lain.
Harry Warganegara menekankan bahwa peluang pertumbuhan ekspor terbesar berada pada pengembangan produk baja bernilai tambah yang menawarkan daya saing lebih tinggi di kancah pasar global.
"Ekspor produk bernilai tambah seperti baja lapis dan produk hilir lainnya berpotensi untuk terus ditingkatkan," ujarnya kepada Bisnis pada hari Jumat, 12 Juni 2026.
Penguatan industri hilir dinilai krusial agar sektor baja dapat memberikan kontribusi yang lebih substansial terhadap perubahan komposisi penjualan manufaktur. Perubahan yang ditargetkan adalah bergeser dari rasio 20% ekspor dan 80% domestik menjadi 30% ekspor dan 70% domestik.
Lebih lanjut, Harry Warganegara menyatakan bahwa kapasitas produksi baja nasional masih memiliki ruang untuk dioptimalkan guna mendukung lonjakan volume ekspor. Optimalisasi fasilitas produksi yang saat ini belum beroperasi penuh dapat menjadi instrumen penting untuk peningkatan ekspor sekaligus memperbaiki tingkat utilisasi industri.
"Dari sisi industri baja, kapasitas produksi nasional masih memiliki ruang untuk mendukung peningkatan ekspor, khususnya melalui optimalisasi utilisasi fasilitas produksi yang sudah ada," tuturnya.