- HOTNEWS.ID - Tim Nasional Argentina mengakhiri kampanye mereka di Piala Dunia 2026 dengan catatan yang penuh ironi. Perjalanan yang diibaratkan sebuah film aksi, dengan berbagai drama menegangkan, harus berakhir tanpa klimaks yang membahagiakan di partai final.
Tim berjuluk "Albiceleste" ini seolah menjadi tokoh utama dalam sebuah cerita epik, menghadapi rintangan tak terduga di setiap fase gugur. Cape Verde, Mesir, dan Swiss menjadi lawan yang menguji ketangguhan mereka hingga titik darah penghabisan.
Perjalanan Argentina ke final dipenuhi momen-momen mendebarkan yang membuat para pendukungnya harus menahan napas. Timnas Argentina harus berjuang keras untuk bangkit dari ketertinggalan di beberapa pertandingan krusial.
Dalam laga melawan Cape Verde, gol bunuh diri pemain lawan menjadi penentu kemenangan tipis Argentina. Sementara itu, melawan Mesir, mereka berhasil menciptakan tiga gol balasan di menit-menit akhir pertandingan yang mengagumkan.
Keberuntungan pun seolah berpihak pada mereka saat menghadapi Swiss. Sebuah keputusan kontroversial yang berujung kartu merah bagi pemain Swiss memberikan keunggulan jumlah pemain yang dimanfaatkan Argentina untuk membalikkan keadaan.
Di babak semifinal, Argentina kembali menunjukkan mental juara mereka. Tertinggal jelang akhir laga, Lionel Messi memberikan assist krusial untuk gol penyeimbang, yang kemudian disusul gol kemenangan dari Lautaro Martinez.
"Semua cerita indah dalam perjalanan ke final itu akhirnya tidak berakhir bahagia. Argentina kehabisan ide cerita di final hingga cerita yang mereka buat berakhir duka," demikian kutipan dari artikel asli yang menggambarkan nasib Argentina.
Ambisi Argentina untuk mempertahankan gelar juara dunia, sebuah prestasi yang terakhir kali diraih Brasil pada 1962, pupus di hadapan pertahanan Spanyol yang solid. Skuad yang sebagian besar tidak banyak berubah dari edisi sebelumnya ini gagal menunjukkan performa terbaiknya.
Di lapangan, Spanyol tampil dominan di bawah komando Rodri, mengungguli lini tengah Argentina secara telak. Penguasaan bola dan terciptanya peluang lebih banyak menjadi bukti superioritas mereka di pertandingan final.