HOTNEWS.ID - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Republik Islam Iran mengeluarkan pernyataan mengenai rencana penutupan kembali Selat Hormuz. Keputusan ini diambil sebagai respons langsung terhadap serangkaian serangan militer yang dilancarkan oleh Israel terhadap wilayah Lebanon baru-baru ini.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran internasional paling krusial di dunia, terutama untuk lalu lintas energi global. Ancaman penutupan ini secara otomatis meningkatkan kewaspadaan militer Amerika Serikat yang memiliki kepentingan signifikan di kawasan tersebut.

Menanggapi perkembangan ini, Militer AS melalui Komando Pusat AS (CENTCOM) segera memberikan pernyataan resmi pada hari Sabtu. Pihak AS menegaskan bahwa mereka tetap siaga penuh dalam memantau situasi di alur pelayaran vital tersebut.

CENTCOM, yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di seluruh wilayah Timur Tengah, menyampaikan bahwa mereka beroperasi dalam status siaga tinggi. Hal ini dilakukan untuk memastikan stabilitas dan keamanan navigasi di perairan internasional yang sensitif itu.

"Pasukan AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, dipatuhi, dan berlaku penuh," kata Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/6/2026).

Pernyataan CENTCOM tersebut menggarisbawahi fokus utama mereka, yaitu memastikan bahwa setiap kesepakatan atau norma maritim internasional yang berlaku terkait Iran tetap ditegakkan secara konsisten. Kesiapan ini mencerminkan potensi dampak luas dari setiap gangguan di Hormuz.

Lebih lanjut, CENTCOM memberikan data mengenai aktivitas pelayaran yang terjadi pada hari pengumuman tersebut. Mereka melaporkan bahwa aktivitas komersial berjalan normal meskipun ada ancaman yang dilontarkan oleh Iran.

"Pasukan AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, dipatuhi, dan berlaku penuh," ujar Komando Pusat AS (CENTCOM), seperti dilansir AFP, Sabtu (20/6/2026).

Badan yang mengawasi operasi AS di Timur Tengah tersebut juga mengonfirmasi bahwa jalur aman navigasi masih terjaga pada saat itu. Data menunjukkan volume pergerakan kapal tetap signifikan di tengah ketegangan politik yang meningkat.