HOTNEWS.ID - Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam serangkaian serangan balasan yang menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan regional. Insiden ini terjadi setelah serangan yang menewaskan dua anggota militer Amerika Serikat di Yordania pada hari Jumat.
Pasukan Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan terhadap Pulau Qeshm di Teluk Persia pada malam hari. Serangan serupa juga menyasar kota-kota di wilayah selatan Iran, termasuk Shadegan, Sirik, dan Hajiabad, sebagaimana diberitakan oleh media Iran.
Hingga kini, belum ada rincian pasti mengenai jumlah korban jiwa atau tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan di wilayah Iran tersebut. Perkembangan ini menambah kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan tersebut.
Sementara itu, di Yordania, kedutaan besar Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan mengenai evakuasi bandara dan pelabuhan laut di kota Aqaba. Evakuasi tersebut dilakukan menyusul adanya "ancaman spesifik dan kredibel" yang teridentifikasi di wilayah tersebut.
Namun, otoritas Yordania dengan cepat membantah laporan evakuasi tersebut. Menurut kantor berita Petra milik negara, operasi di bandara dan pelabuhan laut Aqaba dilaporkan tetap berjalan normal tanpa gangguan berarti.
Menanggapi situasi tersebut, kantor berita IRIB milik negara Iran melaporkan bahwa tentara Iran melakukan serangan balasan pada Minggu pagi. Serangan tersebut berupa penggunaan drone yang ditujukan untuk pasukan Amerika Serikat di Kuwait, khususnya di Camp Buehring dan Pangkalan Udara Ali Al Salem.
Negara Kuwait, yang fasilitas minyak, pembangkit listrik, dan pabrik desalinasi miliknya telah menjadi sasaran serangan dalam beberapa hari terakhir, mengkonfirmasi respons terhadap serangan drone dan rudal baru tersebut. Pihak berwenang Kuwait belum memberikan detail lebih lanjut mengenai serangan ini.
"Pasukan AS menyerang Pulau Qeshm di Teluk Persia semalam, serta kota-kota selatan termasuk Shadegan, Sirik, dan Hajiabad," menurut laporan media Iran, sebagaimana dikutip dari Bloomberg News.
"Di Yordania, kedutaan besar AS mengatakan bandara dan pelabuhan laut di kota Aqaba di Laut Merah telah dievakuasi karena 'ancaman spesifik dan kredibel'," sebagaimana dikutip dari Bloomberg News.