HOTNEWS.ID - Musim kemarau belum sepenuhnya tiba, namun Riau kembali digemparkan oleh lonjakan tajam kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sepanjang Januari hingga Juni 2026. Data menunjukkan luasan Karhutla mencapai 15.477,9 hektare, sebuah angka yang memprihatinkan.

Dari total luasan tersebut, mayoritas atau lebih dari 92% terjadi di lahan gambut, merinci angka 14.277,3 hektare. Fakta ini menjadi sorotan serius dari para ahli.

Analisis citra satelit yang dilakukan oleh Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyoroti pola kebakaran yang terjadi. Dominasi lahan gambut dalam kasus ini mengindikasikan adanya masalah mendasar yang perlu segera diatasi.

"Dominasi kebakaran di lahan gambut menunjukkan bahwa akar persoalan karhutla di Riau bukan semata dipicu oleh kondisi cuaca atau musim kemarau, tetapi juga degradasi ekosistem gambut," ujar Kepala PUI Gambut dan Kebencanaan Universitas Riau, Sigit Sutikno.

Menurut Sigit, tingginya angka kebakaran di lahan gambut menegaskan bahwa Karhutla di Riau pada dasarnya adalah bencana hidrologi. Kondisi tata air gambut yang terganggu menjadi faktor utama kerentanan lahan terhadap api.

"Gambut yang tata airnya masih terjaga sangat sulit terbakar meskipun kemarau panjang. Begitupun sebaliknya. Dominasi Bengkalis dan Pelalawan dalam data ini konsisten dengan kondisi kubah-kubah gambut dalam yang telah lama terganggu tata airnya," jelas Sigit pada Sabtu (18/7/2026).

Berkaca dari kondisi tersebut, Sigit Sutikno menekankan pentingnya penanganan Karhutla secara komprehensif, mencakup seluruh siklus manajemen bencana. Hal ini meliputi fase mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan.

"Selama ini, perhatian dan anggaran penanganan masih terkonsentrasi pada fase tanggap darurat atau pemadaman, padahal tahap tersebut merupakan yang paling mahal sekaligus memiliki peluang keberhasilan paling kecil, terutama untuk kebakaran di lahan gambut," ungkap Sigit.

Sigit Sutikno mendorong agar fokus penanganan Karhutla digeser ke tahap hulu. Investasi terbesar seharusnya diarahkan pada upaya pencegahan agar tidak terus terjebak dalam pola reaktif.