HOTNEWS.ID - Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menghadapi potensi kegagalan dalam upaya merekrut Pep Guardiola sebagai pelatih timnas mereka, seiring dengan munculnya kabar penolakan dari sang arsitek taktik kawakan. Langkah ini bisa memupus harapan besar para penggemar sepak bola Italia untuk melihat pelatih sekaliber dunia menukangi skuad Azzurri.
Guardiola disebut-sebut menjadi kandidat teratas FIGC untuk menggantikan posisi pelatih timnas, menyusul kegagalan pendekatan mereka sebelumnya terhadap Carlo Ancelotti yang kini membesut timnas Brasil. Namun, impian tersebut tampaknya akan bertepuk sebelah tangan.
"Mimpi besar penggemar Italia mendapatkan pelatih sekaliber Guardiola bakal pupul," demikian kutipan dari RMC Sport yang merujuk pada laporan Gazzetta dello Sport, mengindikasikan penolakan Guardiola atas tawaran tersebut.
Alasan utama di balik potensi penolakan ini adalah tuntutan gaji yang diajukan oleh Guardiola, yang dikabarkan dua kali lipat dari angka yang ditawarkan oleh FIGC. Tuntutan finansial ini menjadi batu sandungan signifikan bagi federasi.
Proyek yang ditawarkan kepada Guardiola tidak hanya sebatas melatih timnas senior, tetapi juga mencakup tugas krusial dalam menanamkan filosofi sepak bola baru di Italia, terutama pada jenjang usia muda. Hal ini diyakini menjadi daya tarik tersendiri bagi sang pelatih.
Namun, komitmen jangka panjang yang dibutuhkan untuk proyek ambisius tersebut diduga menimbulkan kekhawatiran bagi Guardiola. Ia memiliki janji pribadi kepada keluarganya setelah satu dekade bersama Manchester City.
"Guardiola dilaporkan berjanji kepada keluarga untuk bersama mereka setelah 10 tahun di Man City," demikian bunyi laporan tersebut, menekankan faktor personal yang turut memengaruhi keputusannya.
Kendati demikian, kendala finansial tetap menjadi isu utama yang menghalangi langkah Guardiola ke Italia. Tawaran gaji tahunan sebesar 10 juta euro dari FIGC dinilai tidak sesuai dengan ekspektasi sang pelatih.
"Mantan pemain Brescia itu ingin gaji dua kali lipat dari yang ditawarkan," jelas sumber berita, menggarisbawahi jurang pemisah antara keinginan pelatih dan kemampuan finansial federasi.