HOTNEWS.ID - Perkembangan terbaru di Tepi Barat mengindikasikan bahwa otoritas Israel saat ini sedang menahan jenazah dua remaja Palestina yang sebelumnya tewas akibat penembakan oleh pasukan Israel. Penahanan jenazah ini menambah ketegangan di wilayah tersebut, menjadi fokus perhatian internasional.

Peristiwa penembakan yang menyebabkan kematian kedua remaja tersebut dilaporkan terjadi di kawasan utara kota Hebron, sebuah area yang secara historis sering menjadi titik konflik. Insiden ini memicu reaksi dari pihak Palestina mengenai penanganan jenazah korban.

Militer Israel memberikan keterangan resmi mengenai peristiwa penembakan yang berujung pada kematian kedua remaja tersebut. Mereka mengklaim bahwa penembakan tersebut terjadi sebagai respons terhadap tindakan kedua remaja yang dianggap mengancam keamanan.

Menurut keterangan militer Israel, kedua remaja Palestina tersebut tewas setelah mereka terlibat dalam aksi pelemparan bom molotov. Klaim ini menjadi dasar pembenaran aksi penembakan yang dilakukan oleh pasukan keamanan Israel di lokasi kejadian.

Otoritas Umum Urusan Sipil yang berpusat di Ramallah, yang memiliki afiliasi dengan Otoritas Palestina, telah mengonfirmasi status jenazah tersebut. Lembaga ini menyatakan bahwa jenazah kedua remaja itu saat ini berada dalam penguasaan otoritas Israel.

Kantor berita resmi Palestina, Wafa, telah mengidentifikasi secara rinci kedua korban tewas dalam insiden penembakan tersebut. Kedua korban diidentifikasi sebagai Reda Sami Awad yang berusia 15 tahun dan Arafat Ismail Awad yang berusia 19 tahun.

Dikutip dari AFP, perkembangan situasi ini pertama kali dilaporkan pada Selasa, 23 Juni 2026. Informasi mengenai penahanan jenazah ini menjadi berita utama dalam perkembangan situasi terkini di Tepi Barat.

Otoritas Umum Urusan Sipil yang berbasis di Ramallah menyampaikan bahwa jenazah kedua remaja tersebut saat ini "ada di tangan otoritas Israel," sebagaimana dikonfirmasi oleh lembaga yang berafiliasi dengan Otoritas Palestina.

Sementara itu, militer Israel menegaskan bahwa insiden penembakan terjadi setelah adanya tindakan provokatif, dengan menyatakan kedua remaja itu "tewas setelah melempar bom molotov."