HOTNEWS.ID - Perjalanan bisnis Dewi Agustiati menjadi bukti bahwa semangat kewirausahaan tidak mengenal batasan usia. Perempuan yang kini berusia 59 tahun tersebut memulai perjalanannya dengan motivasi sederhana, yaitu memastikan dirinya tetap memiliki sumber penghasilan di masa tua.

Keinginan awal tersebut kini telah berkembang pesat hingga membawa produk batiknya menembus pasar internasional, khususnya Amerika Serikat (AS). Dewi Agustiati tak pernah menyangka bahwa langkah awalnya akan membawa dampak sejauh ini dalam usahanya.

Kisah sukses ini terungkap saat tim media mengunjungi kediamannya yang berlokasi di kawasan Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Rumah tersebut menjadi saksi bisu dimulainya perjuangan Dewi dalam merintis bisnis yang diberi nama Kaaseeh Apparel.

Menariknya, Dewi memulai semua langkah usahanya dari nol tanpa memiliki latar belakang atau pengalaman sama sekali di industri fesyen sebelumnya. Ia membangun fondasi bisnisnya murni berdasarkan kemauan keras dan ketekunan.

Pada suatu pagi, Dewi Agustiati tampak sangat antusias ketika menceritakan kembali tahapan awal bagaimana Kaaseeh Apparel mulai dikenal publik. Ia mengenang momen ketika pertama kali mencoba mengirimkan batik khas Indonesia ke luar negeri.

"Awalnya saya hanya mencoba mengirimkan batik Indonesia ke Amerika karena adanya permintaan dari keluarga dan teman," ujar Dewi Agustiati.

Permintaan dari kerabat dan kenalan yang berada di luar negeri tersebut menjadi titik awal ekspor yang tidak terduga bagi Dewi. Hal ini membuktikan adanya potensi besar dari produk lokal jika dipasarkan dengan tepat sasaran.

Modal awal yang disiapkan Dewi Agustiati untuk merintis Kaaseeh Apparel ternyata sangat minim, yakni hanya senilai Rp 600 ribu. Jumlah tersebut ia gunakan untuk memulai operasional sederhana dari rumahnya di Jakarta Selatan.

Dikutip dari detikcom, lokasi di Tanjung Barat itu menjadi pusat operasional di mana Dewi mengelola seluruh aspek bisnisnya, mulai dari promosi hingga pengiriman. Kini, usahanya telah membuktikan bahwa modal besar bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan.