HOTNEWS.ID - Bank Dunia baru-baru ini mengeluarkan proyeksi yang mengkhawatirkan mengenai prospek ekonomi global untuk tahun 2026. Eskalasi konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah diprediksi akan menjadi beban signifikan yang menekan laju pertumbuhan dunia ke level terendah sejak masa awal pandemi Covid-19.

Penurunan proyeksi ini disebabkan oleh beberapa faktor krusial, termasuk lonjakan tajam dalam harga energi, penguatan tekanan inflasi secara global, serta peningkatan biaya pinjaman di pasar internasional. Hal ini termuat dalam publikasi terbaru mereka, Global Economic Prospects, yang dirilis pada Jumat (12/6/2026).

Secara spesifik, lembaga keuangan multilateral tersebut merevisi turun estimasi pertumbuhan ekonomi dunia untuk tahun 2026 menjadi hanya 2,5 persen. Angka ini menunjukkan kemerosotan dibandingkan dengan capaian tahun 2025 yang diproyeksikan tumbuh sebesar 2,9 persen.

Koreksi penurunan proyeksi ini berdampak luas, di mana hampir dua pertiga negara di dunia mengalami penyesuaian estimasi pertumbuhan jika dibandingkan dengan data yang dirilis pada bulan Januari tahun yang sama. Walaupun diprediksi akan ada pemulihan menuju 2,8% pada tahun 2027, angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata pertumbuhan dekade 2010-an.

Presiden Grup Bank Dunia, Ajay Banga, menyoroti bahwa negara-negara berkembang saat ini tengah menghadapi tantangan yang sangat berat selama dekade terakhir. Ia menekankan bahwa meskipun dampak ekonomi bervariasi, isu mendasar yang dihadapi tetap sama, yaitu melindungi masyarakat tanpa mengorbankan prospek pertumbuhan dan ketersediaan lapangan kerja masa depan.

"Merespons guncangan saat ini, kami menyediakan likuiditas di tempat yang membutuhkan sekarang—dan kami siap dengan pembiayaan tambahan, jaminan, serta solusi sektor swasta jika tekanan semakin mendalam," ujar Ajay Banga.

Ajay Banga menambahkan bahwa tugas utama lembaga adalah membantu negara-negara dalam menstabilkan kondisi ekonomi mereka, memastikan reformasi tetap berjalan, dan akhirnya membantu mereka bangkit menjadi lebih kuat pasca-krisis.

Dampak langsung dari ketegangan geopolitik terlihat pada pasar energi, terutama akibat gangguan pada Selat Hormuz. Dilansir dari Bisnis.com, harga minyak mentah jenis Brent diproyeksikan rata-rata mencapai US$94 per barel sepanjang tahun 2026, yang merupakan lonjakan signifikan sebesar 36% dari level tahun 2025, dengan asumsi gangguan terburuk mulai mereda pada Juli mendatang.

Kenaikan harga komoditas energi ini kemudian merembet pada kenaikan harga pupuk global, yang berpotensi meningkatkan inflasi pangan secara signifikan. Akumulasi tekanan ini diperkirakan mendorong inflasi global naik menjadi 4% pada tahun 2026, meningkat dari posisi 3,3% pada tahun 2025.