HOTNEWS.ID - Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau yang dikenal sebagai Indonesia Investment Authority (INA) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp7,4 triliun pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya, menandai pertumbuhan positif dalam pengelolaan investasi negara.

Selain laba yang melesat, sovereign wealth fund (SWF) pertama Indonesia ini juga mencatat pembalikan positif pada total penghasilan komprehensifnya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan catatan kerugian di tahun 2024, menunjukkan efektivitas strategi pengelolaan INA.

Berdasarkan Laporan Tahunan INA 2025, laba bersih lembaga investasi milik pemerintah ini melonjak Rp2,02 triliun dari Rp4,91 triliun di tahun 2024. Peningkatan laba sebesar 37,3% ini dicapai pada tahun kelima INA beroperasi.

"Kenaikan laba bersih INA juga didukung oleh upaya-upaya efektif dalam mengontrol pengeluaran investasi dan ongkos pembiayaan sepanjang 2025," demikian bunyi Laporan Tahunan INA yang dikutip.

Peningkatan laba ini ditopang oleh kenaikan pendapatan sebesar 43% secara tahunan (yoy) menjadi Rp8,45 triliun. Kontributor utama pendapatan meliputi dividen Rp4,8 triliun, pendapatan bunga Rp2 triliun, serta keuntungan yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar investasi pada subholding senilai Rp1,7 triliun.

Di tengah lonjakan pendapatan, INA mencatat pengeluaran investasi sebesar Rp130,9 miliar dan pengeluaran operasional sebesar Rp669,3 miliar. Kedua pos pengeluaran ini mengalami kenaikan, masing-masing 26,9% dan 4,4% secara tahunan.

Sementara itu, pengeluaran untuk pembiayaan tercatat mengalami penurunan sebesar 17,8% (yoy) menjadi Rp230,3 miliar. Alhasil, laba sebelum pajak INA mencapai Rp7,51 triliun, sebelum akhirnya dikerucutkan menjadi laba bersih Rp7,4 triliun.

Pada sisi lain, INA mencatat total kerugian komprehensif lainnya (total comprehensive loss) sebesar Rp6,8 triliun di tahun 2025. Angka ini terutama dipicu oleh kerugian yang belum terealisasi dari perubahan nilai saham nontunai yang mencapai Rp6,8 triliun.

Meskipun demikian, total kerugian komprehensif tersebut menunjukkan penurunan signifikan sebesar Rp4,8 triliun jika dibandingkan dengan catatan Rp11,6 triliun pada tahun 2024.