HOTNEWS.ID - Lionel Messi kembali membuktikan statusnya sebagai "demigod" bagi Argentina, menyelamatkan timnya dari jurang kekalahan dalam semifinal Piala Dunia 2026 melawan Inggris di Stadion Dallas. Momen krusial terjadi saat Argentina tertinggal 0-1 di menit ke-80.

Saat itu, striker Inter Milan, Lautaro Martinez, mendapat instruksi langsung dari Messi. "Serang ruang di antara bek-bek. Kejar sundulan. Teruslah berlari [di antara bek Inggris]," kata Martinez menirukan arahan Messi.

Messi, dengan visi yang dianggap abnormal, mampu membaca permainan dan memberikan umpan silang yang akurat pada menit ke-92. Bola tersebut berhasil disundul oleh Lautaro Martinez, membalikkan keadaan menjadi 2-1 untuk kemenangan Argentina.

Kecerdasan Messi dalam membaca permainan dan kemampuannya untuk memberikan instruksi yang tepat terbukti menjadi kunci. Ia mampu membantu timnya keluar dari situasi sulit, seperti yang terjadi dalam pertandingan sebelumnya melawan Swiss dan Mesir.

Pelatih Lionel Scaloni juga menunjukkan ketajaman taktiknya dengan memarkir Rodrigo de Paul di awal laga melawan Inggris, memilih Giuliano Simeone untuk menjaga energi De Paul agar bisa dimaksimalkan di babak kedua. Keputusan ini terbukti ampuh dalam mengendalikan penguasaan bola dan serangan balik Inggris.

Argentina menampilkan mentalitas juara dengan skuad yang dianggap biasa saja namun sangat matang. Mereka mampu mendominasi penguasaan bola bahkan melawan tim yang lebih unggul dalam materi pemain dan kecepatan.

Kini, Argentina akan menghadapi Spanyol di final, sebuah tim yang memiliki rata-rata penguasaan bola mencapai 66,0 persen di Piala Dunia 2026. Dominasi ball possession Spanyol kali ini bahkan melebihi generasi emas mereka pada Piala Dunia 2010.

Tim Matador, di bawah asuhan Luis de la Fuente, menampilkan gaya tiki-taka yang semakin kaya dan intens. Mereka bergerak maju mundur dengan ritme konstan, membuat tim sekelas Prancis kesulitan mengembangkan permainan.

Lionel Messi, yang dikenal sebagai "anak baptis" dari taktik bola fenomenal ini, tentu memahami betul filosofi permainan Spanyol. Namun, Spanyol kali ini menunjukkan kerendahan hati, seperti yang diungkapkan Lamine Yamal yang mengaku ikhlas jika akhirnya kalah dari Argentina.