HOTNEWS.ID - Danantara Investment Management (DIM) baru-baru ini berhasil menerbitkan obligasi global atau global bond perdananya dengan nilai total mencapai US$1,5 miliar. Penerbitan ini mendapatkan respons yang sangat positif dari pasar internasional, terbukti dengan kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga lebih dari tiga kali lipat dari target awal.

CEO Danantara yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan indikasi kuat tingginya tingkat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Penyampaian hasil roadshow obligasi global perdana ini dilakukan Rosan kepada Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara pada hari Senin, 15 Juni 2026. Kegiatan roadshow tersebut telah dilaksanakan sejak 3 Juni 2026 menyasar beberapa pusat keuangan utama seperti Hong Kong, Inggris, dan Amerika Serikat.

"Respons positif dari 122 investor dari berbagai negara," kata Rosan Roeslani.

Selama rangkaian roadshow di beberapa yurisdiksi tersebut, pihak Danantara memaparkan secara rinci mengenai prospek obligasi global tersebut, termasuk hasil peringkat kredit yang telah diperoleh dari berbagai lembaga pemeringkat internasional. Selain itu, mereka juga mempresentasikan berbagai kebijakan strategis dan langkah investasi yang telah disiapkan.

Surat utang valuta asing (valas) yang diterbitkan Danantara ini ternyata diminati sangat tinggi, menghasilkan total permintaan investasi mencapai US$4,6 miliar dari target awal yang hanya US$1 miliar. Hal ini mendorong Danantara untuk meningkatkan nominal penerbitan.

"Sehingga melihat bookbuilding tinggi kami upsize atau meningkatkan dari US$1 miliar menjadi US$1,5 miliar. Dibagi 5 tahun dan 10 tahun," ujar Rosan Roeslani.

Obligasi yang ditingkatkan nominalnya ini kemudian dibagi menjadi dua tenor utama, yaitu tenor 5 tahun dan tenor 10 tahun, dengan tingkat yield yang dianggap kompetitif meskipun kondisi pasar modal dan mata uang sedang mengalami tekanan. Yield untuk tenor 5 tahun ditetapkan sebesar 5,35%, sementara tenor 10 tahun dibanderol pada 5,95%.

"Ini adalah hasil sangat baik dan ini membuktikan kepercayaan investor ke Indonesia tinggi," tegas Rosan Roeslani.