HOTNEWS.ID - Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini membeberkan adanya penolakan signifikan terhadap implementasi bahan bakar nabati (BBN) campuran solar dengan biodiesel berbasis sawit 50% atau B50. Penolakan ini diungkapkan beliau saat memberikan keterangan terkait program energi nasional.

Menurut Presiden Prabowo, pihak-pihak yang menolak program B50 memiliki motif agar Indonesia tetap bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM). Hal ini disampaikan beliau dalam acara peresmian lima bendungan di Lombok, yang disiarkan secara daring pada Jumat (10/6/2026).

"Dulu waktu kita mulai, waduh banyak yang menentang [B50]. Dibilang tidak bisa dipakai, nanti mesin rusak, nanti pabrik tidak mau kasih kita mesin, nanti ini, nanti itu," ujar Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo menduga bahwa penolakan tersebut berasal dari pihak yang secara finansial diuntungkan ketika Indonesia terus melakukan impor BBM. Ia berargumen bahwa kepentingan bisnis tersebut menjadi alasan utama di balik upaya menghambat implementasi B50.

"Pokoknya mereka enggak mau kita [mengimplementasikan] B50. Karena dia mau supaya apa itu? Kita impor [solar]. Dia mau impor, impor, impor. Nah di situ dia ambil komisi," kata beliau.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo menekankan bahwa program B50 justru berpotensi besar dalam menekan angka impor solar bagi Indonesia. Implementasi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif pada neraca perdagangan negara.

Ia memperkirakan bahwa melalui program B50, Indonesia dapat mencapai penghematan devisa negara hingga mencapai angka Rp170 triliun. Angka ini menunjukkan potensi besar dalam mengurangi ketergantungan pada pasokan BBM dari luar negeri.

Presiden Prabowo juga baru saja meresmikan implementasi mandatory B50 pada hari Kamis (9/7/2026). Program ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam memanfaatkan sumber daya energi domestik.

Selain menekan impor, Presiden Prabowo menyebutkan bahwa B50 memiliki potensi meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO) hingga sekitar Rp23,49 triliun. Program ini juga diproyeksikan dapat menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja baru.