HOTNEWS.ID - Pemerintah Indonesia tengah gencar mendorong penyaluran bantuan sosial (bansos) melalui transformasi digital. Inisiatif ini bertujuan untuk menjangkau masyarakat yang sebelumnya berhak namun luput dari pendataan resmi sebagai penerima manfaat.

Salah satu kisah sukses dari penerapan sistem baru ini adalah Irawan Teja Sukmana, 63 tahun, warga Surabaya. Beliau merupakan korban pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak pandemi Covid-19 melanda empat tahun lalu.

Irawan, yang sebelumnya bekerja sebagai tenaga penjualan produk farmasi, kehilangan pekerjaannya akibat goncangnya bisnis selama pandemi. Kini, ia kesulitan mendapatkan penghasilan tetap dan membutuhkan bantuan sosial.

"Saya dulu kan sales. Terus sejak Covid itu, jadi sudah 4 tahun menganggur. Terus saya dikeluarkan," ujar Irawan pada Jumat (12/6/2026) setelah mengikuti uji coba program Perlindungan Sosial (Perlinsos) Digital di Surabaya.

Setelah PHK, Irawan sempat mencoba kembali berjualan produk farmasi, namun terhalang oleh kendala perizinan dan kekurangan modal. Karena keterbatasan ekonomi, ia mendaftar bansos, sebab beberapa bantuan pasca-Covid tidak ia terima karena tidak terdata.

"Covid terakhir, saya sudah enggak dapat BLT. Terus saya karena kesulitan makan ya, saya minta bantuan datang ke sini [program uji coba Perlinsos Digital di Kelurahan Pakis, Surabaya]," ungkap Irawan.

Di lokasi uji coba, Irawan dibantu agen untuk mendaftar melalui portal Perlinsos, di mana verifikasi kelayakan penerima dilakukan secara sistematis. Jika data dinyatakan tidak sesuai, proses sanggahan dapat dilakukan dengan cepat.

"Ya ini [pendaftaran via Portal Perlinsos] lebih enak, lebih praktis, cepat gitu," tutur Irawan mengenai kemudahan sistem digital tersebut.

Hal serupa dialami Solikin, 38 tahun, seorang penjual sate di Surabaya. Ia sebelumnya tidak dapat mengakses Program Keluarga Harapan (PKH) karena masalah data administrasi.