HOTNEWS.ID - Pada awal pekan perdagangan Senin, 13 Juli 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan bergerak dalam rentang yang relatif stabil. Proyeksi ini menempatkan pergerakan rupiah di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.128 per dolar AS sepanjang pekan ini.
Pergerakan mata uang Garuda ini dipandang masih mendapat sokongan kuat dari posisi cadangan devisa Indonesia yang memadai. Meskipun demikian, para pelaku pasar tetap memantau dengan cermat rilis data inflasi inti Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Sebagai gambaran, pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, yaitu Jumat, 10 Juli 2026, rupiah menunjukkan penguatan. Mata uang nasional ini berhasil menguat sebesar 63 poin atau setara dengan 0,35% dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp18.128 per dolar AS, menjadi Rp18.065 per dolar AS.
Muhammad Amru Syifa, yang menjabat sebagai Research and Development di Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), memberikan pandangannya mengenai kondisi terkini. Ia menyatakan bahwa penguatan rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai.
"Rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar," ujar Muhammad Amru Syifa. Ia menambahkan, "Kedua faktor tersebut diharapkan mampu meredam tekanan apabila gejolak di pasar keuangan global kembali meningkat."
Kondisi cadangan devisa Indonesia sendiri tercatat mengalami peningkatan. Data terbaru menunjukkan bahwa pada akhir Juni 2026, cadangan devisa mencapai US$145,6 miliar, meningkat dari posisi US$144,9 miliar pada bulan sebelumnya.
Menurut pandangan Muhammad Amru Syifa, rupiah masih memiliki peluang untuk menguat pada pekan ini jika tekanan terhadap dolar AS terus berlanjut. Namun, penguatan yang diharapkan tidak akan terlalu signifikan.
"Penguatan tersebut diperkirakan tidak akan terlalu besar karena investor masih menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, terutama inflasi inti (Core CPI)," jelas Muhammad Amru Syifa. Ia melanjutkan, "Data ini akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve."
Ia juga memaparkan bahwa sentimen utama yang akan memengaruhi pergerakan rupiah pekan ini adalah rilis data inflasi inti AS. "Jika inflasi inti lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi The Fed akan kembali menguat," ungkap Muhammad Amru Syifa. "Kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan memberi tekanan pada rupiah."