HOTNEWS.ID - Kinerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia diprediksi masih akan menghadapi tekanan signifikan pada paruh kedua tahun 2026. Aktivitas manufaktur yang belum sepenuhnya pulih dari zona kontraksi, ditambah dengan permintaan domestik yang lesu dan gempuran produk impor, menjadi faktor utama kekhawatiran ini.

Menurut Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, industri TPT saat ini masih berada dalam fase pemulihan yang rapuh. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga akhir tahun 2026 jika tidak ada perbaikan fundamental.

"Diperkirakan kinerja industri TPT pada semester II/2026 masih berada dalam fase pemulihan yang rapuh," ujar Rizal.

Indikator pelemahan aktivitas manufaktur tercermin dari indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia yang kembali berada di bawah ambang batas ekspansi 50, yaitu pada level 46,9 pada Juni 2026. Hal ini menunjukkan adanya perlambatan dalam produksi, pesanan baru, dan penyerapan tenaga kerja.

Pelemahan daya beli masyarakat menjadi salah satu penyebab utama stagnasi permintaan. Selain itu, perlambatan ekonomi global turut menahan permintaan ekspor, yang berdampak pada utilisasi pabrik yang belum bisa kembali ke tingkat optimal.

"Akibatnya, utilisasi pabrik diperkirakan belum kembali ke tingkat optimal sehingga pertumbuhan industri tekstil berpotensi stagnan hingga penghujung tahun," jelas Rizal.

Sebagai industri padat karya, kelangsungan produksi sektor tekstil sangat bergantung pada volume pesanan yang diterima. Oleh karena itu, pemulihan sektor ini sangat krusial bagi penciptaan lapangan kerja.

"Di sisi lain, daya beli masyarakat dinilai belum pulih sepenuhnya, sementara permintaan ekspor masih tertahan akibat perlambatan ekonomi global," kata Rizal.

Tekanan terbesar bagi pelaku industri dalam negeri datang dari membanjirnya produk tekstil impor yang berharga murah. Dugaan praktik dumping dan impor ilegal semakin menggerus pangsa pasar produsen lokal, menyebabkan penurunan utilisasi produksi, margin keuntungan tergerus, dan penundaan investasi.