HOTNEWS.ID - Rupiah kembali menunjukkan tren pelemahannya pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Mata uang Garuda dibuka tergerus cukup dalam, menembus angka Rp18.054 untuk setiap dolar Amerika Serikat.

Pergerakan nilai tukar ini terjadi di tengah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, faktor eksternal tersebut tampaknya tidak cukup kuat untuk menopang penguatan Rupiah.

Tak lama setelah pembukaan pasar, pelemahan Rupiah semakin dalam. Pada pukul 09:01 WIB, mata uang nasional tercatat merosot 0,35% ke posisi Rp18.068 per dolar AS.

Meskipun eskalasi perang antara AS dan Iran dilaporkan melandai, hal ini tidak serta merta mendorong mata uang di kawasan Asia untuk menguat. Mayoritas mata uang regional justru turut merasakan tekanan pelemahan.

Dolar Taiwan menjadi mata uang Asia yang mengalami depresiasi paling signifikan, tercatat melemah sebesar 0,39%. Posisi kedua ditempati oleh Rupiah, diikuti oleh Won Korea Selatan, Peso Filipina, Dolar Singapura, Yuan Tiongkok, Ringgit Malaysia, dan Yuan Tiongkok offshore.

Hanya Dolar Hong Kong yang mampu menunjukkan apresiasi, itupun sangat terbatas yakni hanya 0,01%. Pergerakan ini menunjukkan adanya sentimen pelemahan yang lebih luas di pasar mata uang Asia.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama global terlihat sedikit menyusut, turun sebesar 0,05% ke level 101,48. Penurunan tipis ini mengindikasikan adanya pergeseran kekuatan sementara di pasar valuta asing.

Mengutip analisis dari Bloomberg Intelligence, dolar AS diprediksi berpotensi melemah terhadap sebagian besar mata uang Asia. Prediksi ini berlaku setelah mata uang Paman Sam tersebut terlebih dahulu mengalami fase konsolidasi pada paruh kedua tahun ini.

"Rupiah melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (28/7/2026), dan dibuka tergerus 0,27% ke posisi Rp18.054/US$," demikian informasi yang disampaikan Bloomberg Technoz.