HOTNEWS.ID - Perdagangan minyak dunia pada hari Jumat, 12 Juni 2026, menunjukkan tren melemah signifikan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kerangka kesepakatan damai. Pengumuman ini sontak memicu spekulasi positif bahwa ketegangan di wilayah Teluk akan segera mereda.
Pergerakan harga tercatat pada komoditas energi utama, di mana minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Juli mengalami penurunan sebesar 1,65% hingga mencapai level US$86,26 per barel. Data ini diperoleh berdasarkan pantauan perdagangan di sesi awal Asia.
Sementara itu, minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Agustus ikut terkoreksi dengan penurunan yang sedikit lebih landai, yakni 1,55%, yang membawanya diperdagangkan pada harga US$88,98 per barel. Hal ini menunjukkan reaksi pasar yang cepat terhadap pernyataan politik tingkat tinggi tersebut.
Presiden Trump menyampaikan pernyataan tersebut langsung dari Oval Office, mengungkapkan optimisme bahwa perjanjian finalisasi kesepakatan tersebut dapat ditandatangani dalam beberapa hari ke depan. Ia juga menjamin bahwa stabilitas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz akan kembali normal pasca perjanjian terealisasi.
Sebelumnya, Trump juga telah mengonfirmasi pembatalan rencana serangan militer AS yang sebelumnya dipertimbangkan terhadap Iran, mengklaim bahwa proses negosiasi telah mencapai tingkat kepemimpinan tertinggi dan mendapatkan persetujuan.
Namun, klaim positif dari Gedung Putih tersebut segera mendapatkan bantahan keras dari pihak Iran. Media yang terafiliasi dengan pemerintah Iran, Fars, melalui kanal Telegram-nya menegaskan bahwa Teheran belum memberikan persetujuan resmi atas rancangan awal nota kesepahaman yang diajukan Washington.
Dilansir dari Fars, pernyataan Trump dinilai sebagai langkah mundur dari ancaman militer yang sebelumnya diutarakan, dan mereka menilai Trump tidak menyajikan unsur baru selain proposal yang sudah pernah diajukan oleh Iran sebelumnya. "Faktanya, hingga saat ini Iran belum memberikan tanggapan akhir, dan justru AS yang kembali pada tuntutan sebelumnya," tulis Fars dalam terjemahan pernyataannya.
Meski demikian, media tersebut mengakui adanya potensi untuk meninjau kembali naskah yang diusulkan Iran, mengingat adanya indikasi bahwa AS disebut telah menerima draf yang diajukan oleh Teheran. Perbedaan narasi ini menciptakan ketidakpastian di pasar energi global.
Di sisi lain, analis dari BMO Capital Markets menilai bahwa harga minyak global tetap relatif stabil meskipun terjadi saling serang narasi antara AS dan Iran. Mereka menyoroti faktor-faktor lain yang membantu menahan volatilitas pasar energi saat ini.