HOTNEWS.ID - Kondisi pasar keuangan Indonesia pada semester kedua tahun 2026 diprediksi masih akan dibayangi oleh sejumlah sentimen negatif dari tingkat global. Sentimen tersebut mencakup ketegangan geopolitik yang berkelanjutan, pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga di pasar internasional.
Menghadapi dinamika pasar yang penuh tantangan ini, banyak manajer investasi (MI) mulai mengadopsi strategi investasi yang cenderung lebih defensif. Langkah ini diambil sebagai upaya proaktif untuk menjaga stabilitas dan kinerja portofolio investasi nasabah di tengah volatilitas yang tinggi.
Pasar saham domestik menunjukkan tekanan signifikan, tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah mengalami koreksi sebesar 34,74% secara year-to-date (YtD) hingga mencapai level 5.643,2. Tekanan jual ini diperparah dengan arus modal asing yang tercatat keluar dari pasar saham domestik mencapai Rp72,56 triliun sepanjang tahun berjalan.
Sementara itu, segmen pasar surat berharga negara (SBN) juga turut merasakan tekanan, terlihat dari imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang masih bertahan di kisaran 7,21%. Meskipun demikian, intervensi dari Bank Indonesia (BI) serta pemangku kepentingan lain berhasil menarik kembali dana asing sekitar Rp4,32 triliun ke pasar obligasi.
Menyikapi lingkungan pasar yang volatil tersebut, Direktur Batavia Prosperindo Asset Management (BPAM), Eri Kusnadi, mengungkapkan proyeksi pihaknya mengenai arah yield SBN. "Rentang ini kami perkirakan terjadi di tutup tahun, tentunya masih bisa berubah apabila terjadi pergeseran suku bunga yang signifikan," katanya kepada Bisnis pada Selasa (30/6/2026).
Menurut pandangan BPAM, pergerakan yield obligasi di masa mendatang sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu arah kebijakan suku bunga acuan dan bagaimana pemerintah menjalankan pengelolaan fiskalnya. Faktor-faktor inilah yang mendasari penyesuaian strategi investasi yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.
Oleh karena itu, BPAM memutuskan untuk mengambil langkah konservatif dengan memendekkan durasi portofolio obligasi yang mereka kelola. Strategi memendekkan durasi ini dianggap lebih relevan untuk memitigasi risiko fluktuasi harga obligasi di tengah kondisi suku bunga yang masih cenderung tinggi.
Terkait pasar saham, Batavia Prosperasi Asset Management merasa optimistis karena kinerja saham-saham fundamental yang mereka pegang telah bergerak sesuai dengan proyeksi awal perusahaan. "Tahun ini kami beruntung kondisi market fundamentalnya bergerak sesuai dengan pandangan kami, harapan kami selaras dengan filosofi kami, sehingga sampai saat ini kinerja kami lebih baik dari IHSG secara cukup signifikan," tambah beliau.
Di sisi lain, Henan Putihrai Asset Management (HPAM) menegaskan fokus mereka pada pemilihan saham-saham dengan kualitas baik yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas memadai. Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division HPAM, Reza Fahmi, menjelaskan bahwa pemilihan saham juga mempertimbangkan eksposur terhadap potensi pertumbuhan ekonomi domestik.