HOTNEWS.ID - Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, baru-baru ini menegaskan komitmen kuat pemerintahannya untuk menjadikan sagu sebagai pilar utama dalam mencapai kedaulatan pangan di wilayah Papua. Langkah ini juga bertujuan untuk memastikan pelestarian budaya, perlindungan ekosistem, serta peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat adat setempat.
Penegasan ini disampaikan secara resmi oleh Gubernur Fakhiri ketika ia memberikan sambutan pembukaan pada acara Festival COLO Sagu 2026. Festival tersebut diselenggarakan dengan mengusung tema yang sangat relevan, yaitu “Sagu Menghidupi. Dari Tradisi Menuju Kemandirian Ekonomi”.
Dilansir dari laman resmi Pemprov Papua, Gubernur Fakhiri menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada berbagai pihak yang terlibat. Ucapan terima kasih tersebut ditujukan kepada Yayasan Colo Sagu Nusantara, panitia pelaksana, akademisi, komunitas adat, pelaku UMKM, serta seluruh mitra pendukung acara.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Fakhiri menekankan makna sagu yang jauh melampaui sekadar komoditas pangan biasa bagi masyarakat Papua. Ia menyoroti nilai historis dan kultural yang terkandung dalam tanaman tersebut.
“Bagi orang Papua, sagu bukan sekadar bahan pangan. Sagu adalah identitas, sejarah dan bagian dari perjalanan hidup masyarakat adat yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gubernur menilai bahwa sagu memiliki peran yang sangat strategis dalam konteks tantangan global saat ini, terutama dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah. Potensi sumber daya alam sagu yang melimpah dinilai mampu menjadi fondasi kedaulatan pangan yang kokoh.
Selain aspek pangan, pemanfaatan sagu juga dipandang mampu membuka peluang ekonomi berkelanjutan yang signifikan bagi masyarakat Papua. Hal ini menjadi fokus utama dalam visi pembangunan daerah ke depan.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Papua secara aktif mendorong penguatan ekosistem sagu secara menyeluruh. Upaya ini mencakup perlindungan kawasan sagu, pemberdayaan masyarakat adat sebagai pemegang hak ulayat, serta pengembangan riset dan inovasi terkait sagu.
Peningkatan nilai tambah produk turunan sagu juga menjadi prioritas agar produk lokal Papua dapat bersaing lebih baik di pasar yang lebih luas. Strategi ini dirancang untuk memastikan manfaat ekonomi sagu dinikmati langsung oleh masyarakat pemiliknya.