HOTNEWS.ID - Rayakan empat dekade lebih kehadiran, Es Teler 77, sebuah ikon kuliner Indonesia, baru saja menginjak usia ke-44 tahun. Prestasi ini menandai ketahanan sebuah brand lokal di tengah pesatnya perkembangan industri kuliner yang terus berubah.

Dalam rangka memperingati momen istimewa ini, Es Teler 77 menggelar Festival Juara. Acara ini menjadi bentuk apresiasi mendalam atas perjalanan panjangnya dalam menyajikan hidangan yang telah menjadi "comfort food" bagi masyarakat Indonesia.

Keberhasilan Es Teler 77 bertahan selama lebih dari empat dekade menunjukkan kemampuannya beradaptasi di tengah maraknya restoran baru dan kafe kekinian. Kehadirannya yang konsisten di pusat perbelanjaan menjadi saksi bisu perjalanan panjangnya.

Awalnya hanya sebuah warung makan sederhana, Es Teler 77 berhasil berkembang pesat dengan tetap setia pada menu-menu tradisional Indonesia. Kini, gerainya telah tersebar luas di berbagai penjuru negeri.

Perjalanan Es Teler 77 dimulai pada 7 Juli 1982, didirikan oleh Sukyanto yang berhasil mengembangkan bisnis ini menjadi salah satu jaringan waralaba terbesar. Saat ini, jangkauannya bahkan telah merambah ke kota-kota internasional seperti New Delhi, Melbourne, Malaysia, dan Singapura.

Kisah sukses ini bermula pada tahun 1981 ketika Murniati Widjaja, seorang ibu rumah tangga yang gemar memasak, mengikuti kompetisi pembuatan es teler. "Dengan campuran nangka segar, daging kelapa, dan potongan alpukat, ditambah es serut dan sirup rahasia spesial, Murniati memenangkan kompetisi dengan gelar juara Indonesia," demikian diceritakan.

Kemenangan Murniati menjadi inspirasi bagi keluarganya untuk membuka warung makan sederhana di teras pusat perbelanjaan Duta Merlin, Jakarta Pusat. Pasangan suami istri Murniati Widjaja dan Trisno Budianto, bersama putri mereka Yenny Setia dan almarhum suaminya Sukyatno Nugroho, bahu-membahu mengelola warung tersebut dengan resep-resep andalan.

"Berbekal keahlian memasak yang hebat, tim ibu-anak ini terjun langsung menciptakan resep-resep yang kini menjadi menu andalan mereka," jelas narasi yang mengisahkan dedikasi keluarga tersebut.

Warung dengan ciri khas cat hijau dan kuning cerah ini segera menarik perhatian publik, membangkitkan minat terhadap peluang bisnis. Konsep waralaba yang saat itu belum begitu dikenal, dipelajari secara otodidak oleh almarhum Sukyatno Nugroho.